MERANGIN NEWSLAN.ID — Pembangunan dan pengembangan kawasan Taman Geopark Merangin yang menelan anggaran hingga miliaran rupiah dari gabungan APBN dan APBD kini memicu keprihatinan publik. Kawasan yang digadang-gadang menjadi sarana konservasi dan destinasi wisata unggulan tersebut justru berada dalam kondisi hancur lebur meski belum sempat resmi beroperasi.
Proyek yang menyedot kucuran dana besar—termasuk alokasi tambahan sebesar Rp2 miliar dari Pemerintah Provinsi Jambi pada tahun 2022 serta dana pemeliharaan rutin sekitar Rp1 miliar per tahun—dinilai gagal memberikan manfaat sesuai perencanaan awal.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah fasilitas pendukung fisik yang telah selesai dibangun tampak mengalami kerusakan berat. Tidak hanya itu, proses pembangunan sarana pendukung Geopark tersebut juga menyisakan dampak buruk terhadap ekosistem sekitar. Pepohonan alami yang diperkirakan telah berumur puluhan hingga ratusan tahun dilaporkan ikut tumbang dan rusak akibat aktivitas pembangunan yang dinilai kurang memperhitungkan aspek kelestarian lingkungan.
Kerusakan kawasan sebelum dimanfaatkan ini memicu berbagai tanggapan kritis dari warga dan para penggiat lingkungan setempat. Mereka menyayangkan pengeluaran anggaran negara bernilai tinggi yang dinilai sia-sia serta berdampak negatif pada kondisi alam asli kawasan Geopark.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengelola maupun dinas terkait mengenai langkah perbaikan atau evaluasi atas kondisi fisik serta kerusakan lingkungan di kawasan Taman Geopark Merangin tersebut.
(Redaksi)


