Oleh: Atuk Sarahim
Ada sebuah ironi yang menyakitkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika rakyat kecil kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, harga kebutuhan pokok terus menjadi beban, dan masa depan anak-anak mereka dipertaruhkan, tidak semua pejabat terlihat berdiri paling depan membela penderitaan rakyat.
Namun, ketika pejabat yang mereka dukung mendapat kritik, sebagian masyarakat justru tampil paling keras membela. Bahkan, tak jarang sesama rakyat kecil saling mencaci, bermusuhan, hingga berkelahi hanya karena perbedaan dukungan politik.
Inilah kenyataan yang patut kita renungkan.
“Pejabat tidak pernah ribut membela orang miskin, tetapi orang miskin sering berkelahi membela pejabat yang bikin mereka miskin,”
Pernyataan ini bukan sekadar sindiran. Ini adalah tamparan bagi kesadaran publik agar masyarakat berani melihat kenyataan, bukan hanya terpaku pada janji, pencitraan, atau loyalitas kepada tokoh tertentu.
Rakyat Menderita, Mengapa Justru Saling Menyerang?
Persoalannya bukan terletak pada siapa yang harus didukung dan siapa yang harus dijatuhkan. Persoalan sesungguhnya adalah ketika kecintaan kepada seorang pejabat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk mengkritik kebijakan yang merugikan dirinya sendiri.
Ketika harga kebutuhan hidup naik, lapangan pekerjaan sulit didapat, pelayanan publik mengecewakan, dan akses terhadap kesejahteraan terasa semakin berat, rakyat berhak bertanya: apa yang sudah dilakukan para pemegang kekuasaan untuk memperbaiki keadaan?
Jabatan publik bukanlah kehormatan tanpa kewajiban. Kekuasaan bukanlah hak istimewa untuk dipuja. Pejabat dipilih, diangkat, dan dibayar melalui sistem yang ditopang oleh rakyat. Karena itu, sudah sepantasnya kepentingan masyarakat menjadi prioritas utama.
Jika rakyat menyampaikan kritik, jangan buru-buru menuduh mereka sebagai pembenci pemerintah. Kritik yang disertai fakta justru dapat menjadi peringatan agar pemimpin tidak kehilangan arah.
Jangan Sampai Kemiskinan Membuat Kita Kehilangan Kesadaran
Kemiskinan bukan hanya soal kekurangan uang. Kemiskinan juga dapat menjadi persoalan ketika masyarakat kehilangan akses terhadap pendidikan yang baik, informasi yang benar, dan kesempatan untuk memperjuangkan hak-haknya.
Lebih memprihatinkan lagi apabila perbedaan pilihan politik membuat masyarakat kecil terpecah belah, sementara persoalan mendasar yang mereka hadapi tetap tidak terselesaikan.
Rakyat boleh berbeda pilihan. Rakyat boleh mengagumi pemimpinnya. Namun, jangan sampai perbedaan itu membuat persaudaraan rusak dan akal sehat dikalahkan oleh fanatisme.
Mendukung pemimpin bukan berarti membenarkan semua kebijakannya. Membela pemerintah bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Justru orang yang benar-benar menginginkan pemimpinnya berhasil akan berani menyampaikan kritik ketika ada kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Pejabat Harus Membuktikan Keberpihakan, Bukan Sekadar Mengumbar Janji
Ukuran keberhasilan seorang pejabat bukan seberapa banyak orang memujinya, seberapa ramai pendukungnya di media sosial, atau seberapa kuat kelompoknya membela setiap kebijakan.
Ukuran keberhasilan harus terlihat dari perubahan nyata: apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan pekerjaan, apakah pendidikan semakin terjangkau, apakah pelayanan kesehatan semakin baik, apakah harga kebutuhan pokok terkendali, dan apakah hukum berlaku adil bagi semua orang.
Rakyat tidak membutuhkan pertengkaran tanpa ujung. Rakyat membutuhkan kebijakan yang menyelesaikan persoalan.
Apabila seorang pejabat benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat, biarlah hasil kerjanya yang berbicara. Sebaliknya, jika ada kebijakan yang merugikan rakyat, kritik harus dijawab dengan penjelasan dan perbaikan, bukan dengan kemarahan atau upaya membungkam suara masyarakat.
Penutup: Jangan Mau Diadu Domba oleh Kepentingan Kekuasaan
Pada akhirnya, rakyat kecil harus menyadari bahwa sesama warga bukanlah musuh hanya karena berbeda pilihan politik. Musuh bersama yang harus dilawan adalah ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, kemiskinan yang tidak ditangani secara serius, serta kebijakan yang tidak mengutamakan kepentingan publik.
Jangan sampai rakyat sibuk berkelahi membela tokoh, sementara persoalan dapur sendiri belum selesai. Jangan sampai persaudaraan hancur demi membela orang yang bahkan belum tentu mengetahui kesulitan hidup yang sedang kita hadapi.
Pejabat datang dan pergi, kekuasaan berganti, tetapi rakyat tetap harus melanjutkan hidup.
Karena itu, belajarlah membela kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok. Hormati pemimpin, tetapi jangan berhenti berpikir kritis. Dukung kebijakan yang baik dan koreksi kebijakan yang buruk.
Sebab, rakyat yang cerdas bukanlah rakyat yang selalu memuji penguasa, melainkan rakyat yang berani memastikan bahwa kekuasaan benar-benar digunakan untuk kesejahteraan bersama.
