Memuat Berita...
Memuat Berita...




Newslan-id Jakarta. Menilai prestasi seorang polisi mungkin terdengar sederhana: semakin banyak penjahat yang ditangkap, semakin pantas ia naik pangkat. Namun, tahukah Anda bahwa pola pikir seperti ini perlahan mulai ditinggalkan oleh institusi kepolisian modern di dunia?
Mengejar angka penangkapan terbukti memiliki celah bahaya. Demi memenuhi target atau kuota, risiko terjadinya rekayasa kasus hingga salah tangkap menjadi sangat tinggi. Untuk menghindari jebakan tersebut, banyak negara maju telah mengubah total cara mereka mengukur "prestasi" seorang aparat penegak hukum.
Mari kita intip bagaimana negara-negara ini mendefinisikan ulang arti keberhasilan seorang polisi:
1. Inggris (UK): Kepercayaan Publik Jadi Prioritas Utama
Di Inggris, berhasil melumpuhkan penjahat kelas kakap tidak otomatis membuat seorang polisi mendapatkan kenaikan pangkat keesokan harinya.
Tolok Ukur Prestasi: Kinerja polisi dinilai dari seberapa aman lingkungan yang mereka jaga (turunnya angka kejahatan) dan seberapa tinggi tingkat kepercayaan masyarakat (public trust).
Sistem Promosi: Mereka menggunakan sistem ujian objektif yang sangat ketat. Seorang polisi wajib lulus ujian hukum tertulis dan simulasi kepemimpinan yang dinilai oleh tim independen. Kenaikan pangkat bukan lagi sekadar menunggu "rekomendasi atasan".
2. Amerika Serikat (USA): Meninggalkan Target Angka, Beralih ke Data
Amerika Serikat memiliki catatan kelam terkait sistem kuota. Di masa lalu, kinerja sering diukur dari banyaknya surat tilang yang dikeluarkan atau jumlah penangkapan terkait kasus narkoba, yang sayangnya kerap berujung pada diskriminasi dan salah tangkap.
Sistem Baru: Kini, kepolisian besar seperti di New York (NYPD) memanfaatkan CompStat, sebuah sistem manajemen berbasis data.
Fokus Evaluasi: Pemimpin kepolisian dievaluasi berdasarkan kemampuan mereka menurunkan tren kejahatan di wilayahnya, bukan dari seberapa banyak orang yang dijebloskan ke penjara. Selain itu, promosi jabatan wajib melalui Ujian Pegawai Negeri (Civil Service Exam) yang kompetitif.
3. Jepang: Mencegah Lebih Baik daripada Menangkap
Jepang secara konsisten mencatatkan diri sebagai salah satu negara dengan tingkat kejahatan terendah di dunia. Kekuatan utama mereka ada pada sistem Koban, yakni pos polisi kecil yang tersebar di setiap lingkungan warga.
Filosofi Prestasi: Keberhasilan polisi diukur dari seberapa erat mereka mengenal warga sekitar dan kemampuannya menyelesaikan konflik warga sebelum membesar menjadi kasus pidana.
Ujian Sulit: Untuk bisa naik pangkat, polisi harus melewati ujian nasional tertulis yang sangat sulit—mencakup hukum tata negara, pidana, dan administrasi. Hal ini memastikan aparat penegak hukum memiliki kecerdasan dan pemahaman hukum yang kuat agar tidak gegabah dalam bertindak.
Cara Mereka Mencegah Rekayasa Kasus demi Jabatan
Negara-negara ini sangat sadar bahwa sistem promosi rentan disalahgunakan. Oleh karena itu, mereka membangun benteng pengawasan yang jauh lebih kokoh:
Pengawas Sipil Independen: Di Inggris, terdapat lembaga khusus (seperti Independent Office for Police Conduct) yang bertugas menyelidiki polisi bermasalah. Lembaga ini diisi oleh warga sipil, sehingga memutus rantai saling menutupi atau rasa sungkan antar-anggota polisi.
Pemisahan Wewenang Secara Tegas: Di banyak negara Eropa, polisi hanya bertugas mengumpulkan bukti. Namun, yang berhak menentukan apakah bukti tersebut sah dan layak dibawa ke pengadilan adalah Jaksa. Jaksa bekerja secara mandiri dan berhak menolak berkas jika bukti terlihat dipaksakan atau direkayasa.
Kesimpulan
Sistem penghargaan berbasis kinerja memang krusial agar polisi termotivasi dan bekerja profesional. Namun, tolok ukur kesuksesan harus diubah. Mencegah terjadinya kejahatan dan menjaga integritas dalam penanganan hukum adalah prestasi sejati yang bernilai jauh lebih tinggi dibandingkan sekadar perlombaan mengejar angka penangkapan.
LM