Pati Newslan.id. Alkisah di lereng timur Gunung Muria yang diselimuti kabut abadi, wilayah Pati tempo dulu merupakan belantara lebat yang dipenuhi rawa, pepohonan raksasa, serta dihuni oleh berbagai makhluk gaib dan binatang buas. Tanah ini dikenal sebagai kawasan yang angker dan tak tersentuh oleh peradaban manusia.
Kehidupan mulai bersemi ketika Ki Ageng Majasemi, seorang ulama dan petapa berwibawa, bersama pengikutnya membuka wilayah barat yang kelak dikenal sebagai Semanggi. Beliau membangun pemukiman dan mendidik masyarakat sekitar dengan tuntunan tata susila serta pembukaan lahan pertanian. Tak jauh dari sana, di bagian utara, berdiri wilayah Carangsoka yang dipimpin oleh Adipati Puspadenta. Carangsoka berkembang pesat menjadi kadipaten yang subur berkat muara sungai yang menghubungkan kawasan pesisir dengan pedalaman.
Puncak perubahan besar dimulai ketika Ki Fajar atau Ki Ageng Bawa, adik dari Adipati Puspadenta, diperintahkan untuk membuka bagian belantara selatan. Dengan kesaktian dan keteguhan hatinya, beliau merambah hutan belantara yang dihuni kawanan gajah liar. Pembabatan hutan ini mengusik ketenangan para penguasa gaib dan margasatwa, hingga terjadi pertarungan sengit antara rombongan Ki Fajar dan penghuni hutan. Melalui kearifan dan daya linuwihnya, Ki Fajar berhasil menaklukkan kawasan tersebut tanpa merusak keseimbangan alam. Wilayah baru ini kemudian dinamakan Kadipaten Paranggaruda, dengan putra Ki Fajar, Raden Paranggaruda, ditunjuk sebagai adipatinya.
Kemakmuran dua kadipaten yang bertetangga—Carangsoka dan Paranggaruda—sempat ternoda oleh benih perselisihan. Adipati Puspadenta dari Carangsoka bermaksud menjodohkan putrinya, Dewi Rayungwulan, dengan Jasmani, putra Adipati Paranggaruda. Namun, Dewi Rayungwulan menolak lamaran tersebut karena tabiat Jasmani yang gemar bersenang-senang dan tidak cakap memimpin. Penolakan ini memicu kemarahan pihak Paranggaruda yang menganggapnya sebagai penghinaan besar, hingga ancaman perang saudara melayang di atas tanah Muria.
Di tengah situasi yang memanas, muncul sosok Raden Kembangjaya, seorang ksatria pengelana keturunan kerajaan besar yang sedang berguru kepada Ki Ageng Majasemi. Mewakili Kadipaten Carangsoka, Raden Kembangjaya memimpin pasukan untuk menghadapi gempuran Paranggaruda. Berkat keunggulan strategi perang serta kepemimpinannya yang berani, Raden Kembangjaya berhasil memenangkan pertempuran dan menyatukan kembali wilayah yang terpecah.
Sebagai bentuk rasa syukur dan penyatuan dua wilayah tersebut, Adipati Puspadenta menikahkan Dewi Rayungwulan dengan Raden Kembangjaya, sekaligus menyerahkan tampuk kepemimpinan. Raden Kembangjaya kemudian memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke sebuah wilayah baru yang lebih strategis, terletak di antara bekas dua kadipaten tersebut.
Saat rombongan pembuka jalan menyusuri hutan untuk membangun pusat pusat kerajaan baru, mereka bertemu dengan seorang petani tua bernama Ki Sagola yang sedang menggembala ternak dan memikul dwipangga (tongkat bambu pembawa tempat air dari bumbung bambu). Ki Sagola menyuguhkan minuman dari bumbung bambu miliknya yang berisi pati—santan kelapa kental yang dicampur dengan pati pohon aren yang sangat segar.
Raden Kembangjaya terkesan dengan kesederhanaan, kearifan lokal, serta kesuburan tanah yang diolah oleh Ki Sagola. Minuman pati tersebut dianggap sebagai simbol kemakmuran, kebersihan hati, dan sarat akan sari pati kehidupan. Sebagai penghormatan atas peristiwa tersebut dan manifestasi harapan agar tanah baru ini menjadi pusat kemakmuran yang melimpah, Raden Kembangjaya secara resmi menamai wilayah baru itu Pati, dan menobatkan dirinya sebagai Adipati Pati Pertama dengan gelar Adipati Jayakusuma.
Redaksi





