Penulis: Nurul Azizah
Semarang Newslan.id. Sosok Nusron Wahid yang selalu membawa nama besar Nahdlatul Ulama (NU) untuk bisa menyusup ke istana. Kalau memang dia benar-benar dibesarkan oleh ulama-ulama NU seharusnya meneladani sikap dan perilaku serta menjaga omongannya. Coba lihat di medsos beberapa kali membuat pernyataan yang blunder. Statement yang bikin gemes bagi yang mendengarkan. Contohnya : "Negara berpotensi mengambil alih tanah berstatus Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Guna Bangunan (HGB) yang dibiarkan terlantar atau tidak produktif selama kurang lebih 2 tahun."
Sekarang ada berita yang menghebohkan, banyak oknum pejabat di jajaran kementerian ATR BPN yang terkena OTT KPK kan biadab. Hampir satu Kementerian korupsi berjamaah, di mana letak sumpah janji ketika dilantik? Skandal dugaan korupsi dengan penemuan 20 koper dan kardus berisi uang Rp 106,3 Miliar di rumah orang kepercayaannya Nusron Wahid.
Dimana satu kementrian melakukan korupsi secara berjamaah. Apakah ini tidak biadab. Orang yang tahu betul agama tapi malah merusaknya sendiri. Nusron Wahid itu dibesarkan di kalangan masyarakat agamis, tapi omongan dan pikiran dan perbuatannya tidak mencerminkan orang beragama. Hal ini dibuktikan dengan anak buah pak Menteri Nusron Wahid (NW) sudah tertangkap oleh Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Tapi NW nya kabur atau ngumpet entah di mana. Baru hari Jum'at 18 September 2026 NW muncul di hadapan publik untuk klarifikasi. Kayak urat malunya lepas, merasa tidak berdosa, bilang siap mengikuti prosedur hukum yang berlaku.
Itu hanya omong kosong, tentunya ada kekuatan yang mendorong Nusron Wahid berani tampil di muka umum. Kayaknya sudah ada yang mengkondisikan. Nyatanya NW percaya diri tampil dengan ucapan yang membuat masyarakat menjadi semakin geram kepada NW. Menurutnya: Dia bantah menghilang, memange saya Jin?"
Bukannya memberikan pernyataan apakah benar uang di koper dan di kardus itu uangnya atau bukan? Sesuai pernyataan dari tersangka yang sudah diamankan KPK.
KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), pada Senin, 14 September 2026. OTT dilakukan di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi).
Pihak yang diamankan sebanyak 17 pada owal operasi, termasuk Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (PPTR) Lampri, Kakantah Kabupaten Bogor Sontang Coin Manurung, serta Kakantah Kota Tangerang. Kemudian dari 17 yang diamankan, KPK menetapkan 8 orang sebagai tersangka. Yaitu Lampri Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR BPN, Sontang Coin Manurung Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I, Adrianto Pitojo Adi Dirut Summarecon, Fahd El Fouz kader Golkar atau pihak swasta, Arif Sugiyanto orang kepercayaannya Nusron Wahid, Rizal Pahlevi pihak swasta, Erwin pihak swasta kepercayaan pak menteri, dan satu lagi orang kepercayaannya Nusron yaitu Muhammad Fakhry.
Dengan kasus terkait dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) dan pembukaan blokir lahan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Nusron Wahid itu sebenarnya ahli agama, tumbuh di lingkungan pesantren dan tradisi NU di Kudus Jawa Tengah. Pernah jadi Ketua Umum GP Ansor dan Pengurus PBNU. Sering mengisi darusan Al-Qur'an dan pengajian umum di daerah asalnya. Mosok orang yang tahu agama malah diduga terlibat dalam kasus korupsi. KPK masih mendalami kasus ini. Jangan sampai kasus ini lepas dari tangan KPK karena sudah yang mengkondisikan. Sudah ada yang ngatur dan tentunya ada backing kuat yang bisa melemahkan KPK. Sehingga Nusron terbebas dari jerat hukum. Tapi ingat siapa yang tahu agama kok malah merusak sendiri, adzab Allah akan pedih, bahkan lebih berat daripada orang yang bermaksiat karena ketidaktahuan.
Nurul Azizah penulis buku "Dari Perempuan NU Untuk Indonesia"

