MERANGIN, – Darurat kebebasan pers. Seorang wartawan bernama Yahya mengaku diintimidasi dan diancam bunuh secara verbal lewat chat & telpon WhatsApp. Ancaman sadis itu bikin Yahya ketakutan. Demi keselamatan diri dan keluarga, dia tak berani pulang rumah.
Akhirnya, 8 Juni 2026, Yahya memberanikan diri lapor ke Polres Merangin.
Terlapor berinisial AD. Modusnya teror lewat telpon WhatsApp.
Ini petikan ancaman yang diterima Yahya:
> “Kalau kau ndak mau datang aku yang jemput kau. Aku tau rumah kau. Kamu di mano? Kamu anjing kau, pilat kau. Rumah kau ku bakar gek. Anak bini kau ku cincang gek.”
Bukan lagi intimidasi. Ini teror. Nyawa taruhannya.
Sampai hari ini, Sabtu 13 Juni 2026, Yahya belum berani injak rumah.
“Saya takut. Nyawa saya dan keluarga terancam. Saya nggak tahu dia serius atau nggak, tapi ancamannya udah ke anak-bini. Saya pilih ngungsi dulu,” kata Yahya ke redaksi.
Seorang jurnalis lari dari rumahnya sendiri. Di negeri sendiri. Karena kerja cari berita.
POLRES MERANGIN WAJIB GERAK CEPAT
Laporan sudah masuk sejak 8 Juni 2026. Artinya sudah 5 hari.
Publik Merangin nunggu:
1. AD sudah dipanggil belum?
2. Status hukumnya apa?
3. Ada perlindungan buat Yahya & keluarga nggak?
Jangan tunggu viral. Jangan tunggu ada korban. Pasal 335 KUHP tentang Pengancaman jelas. UU Pers No. 40/1999 Pasal 18 ayat (1) juga tegas: menghalangi tugas jurnalistik dipidana 2 tahun penjara.
Ini bukan delik aduan biasa. Ini nyangkut nyawa & kemerdekaan pers.
Kalau merasa pemberitaan Yahya salah, ada hak jawab. Ada Dewan Pers. Ada jalur hukum.
Bukan main ancam bakar rumah. Bukan main ancam cincang anak-bini. Itu gaya preman, bukan gaya orang beradab.
Redaksi Newslan.id
Wartawan Kerja Dilindungi UU. Kalau Wartawan Takut, Siapa Lagi yang Berani Bongkar Bobrok? Usut Tuntas AD. Lindungi Yahya!

