Newslan.id . Film bergenre Dokumenter selalu menghadirkan visual original yang minimalis acting dan setting. Begitu pula film Pesta Babi. Ibarat permen karet : mudah dikunyah susah ditelan.
Yang menarik dari film ini adalah pengakuan sutradaranya, Dandy Dwi Laksono. Rasa frustasinya pada negara yang menurutnya sudah bengkok kemana-mana dan menuju patah.
Di titik itulah muncul ide mengedukasi publik melalui paparan prespektif bagaimana negara memperlakukan Papua sebagai komoditas, bukan sebagai asset. Barang dagangan yang ditransaksikan dan bermuara pada teori kapitalisme.
Film dramatis yang mengharu biru sense sentimental kita -selaku warga biasa- cukup sukses mengedukasi logika dan emosional. Dandy juga paham ada gerbong besar yang terganggu saat publik mengetahui agenda tersembunyi di belakang slogan mulia “swasembada pangan”.
Tanah Papua secara politis sudah sah dijual kepada para kapitalis. Menjadi pilihan strategis rezim daripada dibiarkan menjadi duri dalam daging berbendera Bintang Kejora.
Papua akan semakin sulit mewujudkan talak pisah dengan Indonesia ketika sudah berkontrak dagang dengan pemilik modal. Negara manapun yang mendukung OPM perlahan mundur teratur karena ada aturan dagang yang sudah diciptakan di Papua.
Strategi rezim dengan pembukaan jutaan hektar lahan sawit di Papua cukup efektif untuk meredam keinginan pisah negara. Bukan tentang semangatnya yang kemudian kendor, namun tanah kini sudah punya “tuan baru”.
Catatan sejarah momentum revolusi di berbagai negara hanya akan sukses saat ada campur tangan pihak luar. Kini pihak asing jika ingin mendukung pembebasan Papua mesti bernegosiasi dengan investor, bukan lagi dengan Negara.
Situasi itu menjadi lebih rumit karena Kapitalisme sejatinya menjadi ayah kandung dari kolonialisme. Penjajahan bentuk apapun hanya akan berhenti di orasi ketika tidak ada kapital untuk mengeksekusi.
Kalimat Kolonialisme di zaman kita (oleh bangsa sendiri) menjadi penegasan bahwa sejak kemerdekaan 1945 sesungguhnya rakyat tidak memiliki kedaulatan penuh. Rakyat hanya menjadi persyaratan sebuah negara yang dikelola oleh kaum elite.
Perlawanan dampak dari Film Pesta Babi pasti terjadi, Pemerintah sudah mengukur akan bertumbuh sebesar apa. Kesiapan militer mengawal proyek kapitalisme menjadi sah ketika semua sudah selesai di meja perundingan Istana.
Rezim akan lebih sibuk mengajari warga untuk menjadi buruh perkebunan dan operator alat berat. Daripada mengurus protes tanah adat yang dirampas paksa. Karena adat lokal harus berganti menjadi adat pusat.
Dalam situasi frustasi -disadari atau tidak- Dandi sudah mengedukasi masyarakat untuk tidak lagi memilih pemimpin dari Militer, kelak.
Penulis : Dahono Prasetyo

