JAKARTA, NEWSLAN.ID – Aksi kali ini beda rasanya. Solidaritasnya kerasa banget sampai ke sumsum.
Ketika mahasiswa bergerak turun ke jalan, kelompok ibu-ibu ikut bergerak dari dapur. Hasilnya: logistik gratis ngalir deras buat peserta aksi di Jakarta.
NASI BUNGKUS VS ANGGARAN MILIARAN
Di tengah teriakan “Tolak Ini, Tolak Itu”, ada pemandangan adem:
1. Dapur Umum Dadakan: Emak-emak bawa kompor, dandang, rantang susun. Menu? Nasi, ayam, telur, air mineral. Semua gratis.
2. Tanpa Proposal: Nggak ada lelang. Nggak ada tender. Nggak ada potongan 20% sana-sini.
3. Tanpa Spanduk Donatur: Nggak ada logo partai. Nggak ada muka caleg. Cuma tulisan: “Dari Rakyat Untuk Rakyat”.
SINDIRAN TELAK BUAT YANG DI ATAS
Netizen langsung bersuara:
“Ini baru APBR: Anggaran Pendapatan dan Belanja Rakyat.”
“Tanpa APBN, tanpa korupsi, tanpa potong sana potong sini. Efisien, tepat sasaran, perut kenyang, demo lancar.”
“Pejabat rapat miliaran buat bahas stunting. Ibu-ibu modal Rp50 ribu udah bisa bikin 30 bungkus. Kalah telak.”
Pedih? Iya. Fakta? Banget.
KENAPA INI PENTING?
1. Bukti Rakyat Nggak Budek: Isu yang dibawa mahasiswa ternyata direstui emak-emak. Restu emak itu sakral, bro.
2. Tamparan Buat Birokrasi: Logistik aksi bisa jalan tanpa LPJ, tanpa kwitansi bodong, tanpa mark-up. Lha kok proyek negara malah ruwet?
3. Solidaritas Itu Nyata: Sekat generasi runtuh. Mahasiswa teriak di depan, ibu-ibu jaga perut di belakang. Lengkap.
Pertanyaan yang nggak perlu dijawab, karena semua udah tahu jawabannya.
Satu kardus air mineral dari ibu-ibu lebih ikhlas dari satu truk bansos yang ditempeli stiker. Satu bungkus nasi dari dapur warga lebih berkah dari makan siang rapat yang di-_mark-up_ Rp50 ribu per kotak.
Redaksi Newslan.id
Negara Dibiayai Pajak Rakyat. Tapi Saat Rakyat Bergerak, Yang Ngebantuin Malah Rakyat Juga. Terus Fungsimu Apa, Negara? Mikir!


