Oleh: Sukarlan
Merangin Newslan.id. Pancasila lahir sebagai "jiwa" bangsa. 5 sila itu dulu jadi kompas pas Indonesia masih berjuang: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, Keadilan.
Tapi sekarang banyak yang bilang Pancasila cuma jadi "pajangan". Kenapa?
1. Hafal, tapi nggak diamalkan
Anak SD sampai pejabat hafal urutannya. Tapi pas giliran bagi bansos nggak adil, pas beda agama ribut, pas rapat nggak dengerin rakyat kecil... sila ke-2, 3, 4, 5 langsung hilang. Hafalan jadi formalitas upacara Senin doang.
2. Dipakai saat butuh, dilupakan saat berkuasa
Pancasila sering keluar pas pidato 17 Agustus atau debat politik. "Kita kan negara Pancasila!" Padahal kebijakannya malah bikin jurang si kaya vs si miskin makin lebar. Sila ke-5 jadi wallpaper.
3. Nggak ada konsekuensi
Nggak ngamalin Pancasila nggak ada "denda"-nya. Beda sama ngelanggar UU Lalu Lintas. Makanya gampang jadi slogan kosong. Yang penting ada patung Garuda + tulisan 5 sila di kantor.
Padahal intinya simpel;
Sila 1: Hormati keyakinan orang
Sila 2: Jangan zalim ke sesama manusia
Sila 3: Indonesia dulu, golongan belakangan
Sila 4: Musyawarah, jangan main tunjuk
Sila 5: Semua dapat bagian adil
Kalau 5 ini jalan di RT, kantor, sampe DPR, Indonesia udah beda cerita. Nggak perlu nunggu "Generasi Emas 2045".
Contoh sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Nah, ini sila yang paling "sakit" kalau jadi pajangan doang ya
Di lapangan sering kebalik: yang deket sama "akses" dapet duluan. Bansos salah sasaran, antrean BPJS panjang, sekolah bagus cuma di kota. Sementara "seluruh rakyat" di ujung desa cuma bisa liat dari TikTok.
Ironisnya, sila ke-5 ini justru paling gampang diukur. Nggak adil = keliatan langsung. Nggak kayak sila lain yang masih bisa ditutup kata-kata manis.
Contoh kecil sila 5 jadi pajangan di sekitar kita:
1. Jalan rusak, cuma diaspal pas mau pemilu
2. Wifi/ sinyal, kenceng di mall, di kampung ngos-ngosan upload tugas
3. Hukum, tajam ke bawah, tumpul ke atas
Kalau sila 5 beneran jalan, harusnya nggak ada lagi kalimat "nasib orang beda-beda". Yang ada "kesempatan orang sama rata, hasilnya baru beda karena usaha".
Pancasila nggak salah. Yang bikin jadi pajangan ya kita sendiri pas milih diem aja liat nggak sesuai sila.(**)


