PEKANBARU NEWSLAN.ID ā Festival Kue Talam Durian sepanjang 1.100 meter yang digelar Pemerintah Kota Pekanbaru dalam rangka Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru sukses mencatatkan rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Namun, di balik keberhasilan tersebut, antusiasme warga yang tinggi menjadi perhatian publik setelah sejumlah video beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman yang viral, terlihat warga berkerumun di sekitar kendaraan pengangkut kue talam durian dan mengambil kue yang masih berada di atas mobil sebelum seluruh rangkaian kue selesai ditata di lokasi acara. Kondisi itu menyebabkan sebagian kue telah habis diambil sebelum sempat disusun untuk melengkapi formasi sepanjang 1,1 kilometer yang menjadi target pemecahan rekor.
Sejumlah petugas yang berada di lokasi tampak berusaha mengatur situasi di tengah tingginya minat masyarakat untuk mendapatkan kue talam durian yang dibagikan dalam kegiatan tersebut. Meski sempat terjadi kerumunan dan aksi saling berebut, rangkaian acara tetap dapat dilanjutkan hingga selesai.
Peristiwa tersebut memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menilai tingginya antusiasme warga menunjukkan besarnya perhatian terhadap kegiatan yang digelar pemerintah daerah. Namun, tidak sedikit pula yang menyoroti pentingnya ketertiban dan pengaturan distribusi agar kegiatan serupa dapat berlangsung lebih tertib dan nyaman.
Pengamat sosial menilai kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara, terutama terkait manajemen kerumunan dan mekanisme pembagian kepada masyarakat. Dengan perencanaan yang lebih matang, potensi terjadinya desakan atau perebutan dapat diminimalkan tanpa mengurangi semangat kebersamaan dalam sebuah perayaan.
Terlepas dari insiden tersebut, Festival Kue Talam Durian tetap berhasil mencatatkan prestasi dengan meraih rekor MURI sebagai sajian kue talam durian terpanjang. Capaian ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru yang bertujuan mempromosikan kuliner khas daerah serta memperkuat identitas budaya lokal.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah acara tidak hanya diukur dari pencapaian rekor, tetapi juga dari kemampuan penyelenggara dan peserta dalam menjaga ketertiban, keamanan, serta kenyamanan bersama.
(Redaksi)


