Newslan.id . Banyak followers minta saya membahas listrik padam hampir satu Pulau Sumatera. Padahal, ingin nyantai di malam minggu. Demi kader Partai Koptagul se-Sumatera, saya coba ungkap ada apa sebenarnya di balik blackout listrik itu.
Jumat malam, 22 Mei 2026 pukul 18.44 WIB, Sumatera mendadak seperti dicabut dari peta peradaban. Bukan satu kampung. Bukan satu kota. Hampir satu pulau gelap total. Aceh mati. Medan mati. Padang mati. Pekanbaru mati. Sebagian Jambi ikut KO. Orang-orang keluar rumah bengong menatap tiang listrik seperti menatap janji kampanye, berdiri tegak, tapi kosong isinya.
Lucunya, penjelasan resmi terdengar seperti alasan bocah telat sekolah, “karena cuaca buruk.” Hanya gara-gara gangguan transmisi 275 kV Muaro Bungo–Sungai Rumai, sistem Sumatera langsung tumbang berjamaah. Hebat sekali. Infrastruktur katanya modern, tapi mentalnya kerupuk kena kuah bakso. Satu jalur batuk, satu pulau pingsan.
Ini yang bikin rakyat marah bukan main. PLN sendiri sudah tahu sistem Sumatera punya kelemahan “single corridor effect”. Bahasa elitnya memang keren, seperti judul seminar hotel bintang lima. Tapi arti kasarnya sederhana, kalau satu titik rusak, semuanya ikut padam. Sebenarnya bom waktunya sudah diketahui lama. Bedanya, rakyat baru diberi tahu setelah seluruh kulkas berhenti dingin dan seluruh nyamuk Sumatera mengadakan pesta rakyat.
Lae bayangkan ironi negeri ini. Setiap hari rakyat dijejali cerita pembangunan luar biasa. Jalan tol dibuka pakai gunting emas. Proyek diresmikan dengan senyum lebar dan drone cinematic. Presentasi pejabat penuh grafik warna-warni seolah Indonesia tinggal selangkah jadi negara maju. Tapi hujan deras sedikit, boom! Sumatera berubah jadi lokasi syuting film kiamat murah.
Yang bikin darah naik sampai ubun-ubun, tidak ada peringatan. Tidak ada alarm. Tidak ada pemberitahuan resmi sebelum blackout. Tiba-tiba gelap. Tiba-tiba internet mati. Tiba-tiba sinyal hilang. Mahasiswa yang lagi ngetik skripsi mendadak melihat laptop mati seperti harapan setelah lihat harga kos. Rental PS sepi. Pedagang online stres. Emak-emak panik lihat stok daging di freezer mulai meleleh lebih cepat dari moral politisi musim pemilu.
Warga Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan ngamuk karena biasanya ada info dari media sosial PLN. Kali ini? Sunyi senyap seperti hati pejabat melihat rakyat antre BBM. Di Mandailing Natal, internet ikut tumbang. Orang-orang sampai bertanya di media sosial. “Ini seluruh Sumatera blackout, ya?” Uda/uni bayangkan betapa absurdnya. Tahun 2026, pulau sebesar Sumatera mendadak seperti habis diserang Godzilla listrik.
PLN bilang 13,1 juta pelanggan terdampak. Tiga belas koma satu juta! Itu bukan angka kecil. Itu jumlah manusia yang cukup untuk membuat satu pulau kompak mengumpat dalam bahasa masing-masing. Sampai Sabtu pagi baru sekitar 8,3 juta yang pulih. Sisanya masih duduk gelap-gelapan sambil mendengar suara genset tetangga meraung seperti mesin tank mau kudeta.
Lalu pejabat bilang akan ada evaluasi. Nah ini dia mantra paling sakti di republik ini, “evaluasi.” Kata itu dipakai lebih sering dari colokan terminal di warung kopi. Apa pun masalahnya, jawabannya evaluasi. Jalan ambruk evaluasi. Data bocor evaluasi. Blackout massal evaluasi. Besok kalau bulan jatuh ke bumi mungkin juga dibentuk tim evaluasi.
Yang lebih ajaib lagi, Menteri ESDM sampai Sabtu pagi belum terdengar bicara detail. Hening. Sunyi. Mungkin masih mencari kata-kata yang cocok supaya rakyat marahnya tidak terlalu keras. Kepala daerah juga kebanyakan diam. Memang begitulah tradisi birokrasi kita, rakyat panik cari lilin, pejabat sibuk cari narasi.
Inilah kenyataan paling pahit. Negara sebesar Indonesia ternyata masih punya sistem listrik yang bisa roboh hanya karena satu jalur transmisi bermasalah. Rakyat dipaksa percaya semuanya baik-baik saja. Padahal, fondasinya rapuh seperti janji politik lima tahunan. Sumatera semalam bukan cuma gelap karena listrik mati. Tapi karena rakyat akhirnya sadar, negeri ini kadang lebih sibuk membangun pencitraan dari membangun ketahanan.
✍️ Rosadi Jamani


