Netizen: “Gaji UMR, Disuruh Tinggal di Langit. Pajak Tanah Naik, Yang Kaya Makin Kaya”
Tapak Dijepit Pajak, Vertikal Dijual Mahal. Rakyat Disuruh Tidur di Mana?
JAKARTA, NEWSLAN.ID – Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba meledak, Lur.
Wamen Perumahan & Kawasan Permukiman Fahri Hamzah ngeluarin wacana pedas: Pajak rumah tapak di perkotaan harus dinaikkan tinggi.
Alasannya? Lahan kota udah langka. Jadi rakyat “dipaksa halus” pindah ke hunian vertikal: apartemen, rusun, rumah susun.
UCAPAN FAHRI YANG BIKIN GADUH
Dalam diskusi tata kota kemarin, Fahri bilang:
“Kalau kita biarkan rumah tapak terus dibangun di kota, Jakarta bisa tenggelam sama beton. Solusinya ya fiskal. Pajak rumah tapak dinaikkan signifikan. Biar orang mikir dua kali. Pilihannya tinggal di rusun atau bayar pajak mahal.”
KENAPA RAKYAT MURKA? 3 ALASAN UTAMA
1. Timing Ngaco: Harga beras naik, BBM naik, PPN 12%. Sekarang rumah mau dipajakin lagi. Rakyat napas pake apa?
2. Rusun Nggak Murah: Harga rusun subsidi aja Rp300 juta ke atas. Cicilan Rp2 juta/bulan. Gaji UMR Jakarta Rp5,6 juta. Anak-istri makan apa?
3. Yang Kena Rakyat Kecil: Orang kaya punya rumah tapak Menteng tetep mampu bayar. Yang kejepit ya warga kampung kota, warisan orang tua, NJOP-nya naik tiap tahun.
Komen netizen di X:
“Rumah warisan bapak gue mau gue jual gara-gara pajak? Enak bener ngomong.” @wargajakarta
“Mau usir orang miskin dari kota ya? Biar kota isinya apartemen elite doang?” @anakbetawi
“Pajakin rumah tapak, tapi apartemen pengembang gede dikasih insentif. Mafia properti senyum.” @tukangbata
LOGIKA FAHRI VS REALITA LAPANGAN
Versi Fahri: Kota padat, lahan habis, vertikal solusi, pajak jadi alat kendali.
Versi Rakyat:
1. Transportasi Umum Bobrok: Disuruh tinggal di rusun pinggiran, tapi KRL & TransJakarta belum bener.
2. Rusun Banyak Masalah: Bocor, lift mati, iuran pengelolaan mencekik, sertifikat HGB bukan SHM.
3. Spekulan Tanah Ngakak: Pajak naik, harga rumah tapak naik, yang punya tanah makin kaya. Rakyat tetap ngontrak.
SIAPA YANG UNTUNG KALAU PAJAK RUMAH TAPAK NAIK?
1. Pengembang Apartemen: Stok unit nggak laku-laku. Kalau pajak rumah tapak naik, orang “terpaksa” beli vertikal.
2. Pemda: PAD dari PBB naik gila-gilaan.
3. Bank: KPR apartemen jalan lagi. Bunga jalan terus.
Yang buntung? Rakyat yang cuma punya satu rumah warisan di gang sempit.
SIKAP NEWSLAN.ID
1. @fahrihamzah: Bang, lahan sempit itu bukan salah rakyat. Salah tata ruang yang lo kasih ke mal & gedung elite. Mau naikkan pajak? Bangun dulu transport & rusun yang layak. Jangan cuma nyuruh.
2. @kemenpupr @kemenkeu: Kaji dampaknya. Jangan sampai PBB mencekik, rakyat jual rumah, tanah diborong korporasi. Kota isinya bukan manusia, tapi beton kosong.
3. @dprri: Tolak kalau cuma jadi alat penggusuran halus. Bikin UU yang lindungi rumah pertama rakyat kecil dari pajak gila.
4. Pengembang: Stop jual mimpi “hidup vertikal”. Benerin dulu kualitas, legalitas, sama harga.
5. Rakyat: Pajak boleh, tapi adil. Rumah 36 di gang sempit jangan disamain sama rumah 2 hektar di Pondok Indah.
Redaksi Newslan.id
Lahan kota sempit karena izin mal & apartemen mewah diobral. Sekarang rakyat disuruh bayar pake pajak. @fahrihamzah Kalau mau rakyat tinggal di langit, pastiin tangganya kuat. Jangan baru lantai 2 udah roboh. Pajak naik boleh, akal sehat jangan turun.


