Muaro Jambi Newslan.id. Dua nyawa melayang dalam sekejap di Jalan Lintas Mendalo–Aurduri, Tepat di depan SPBU 24.361.02 Desa Mendalo Darat, Kabupaten Muaro Jambi, Rabu (16/9/2026). Pasangan suami istri, Apriandi P. Sidabukke (45) dan Nurcahaya Nababan (46), yang menunggangi Honda Revo BH 6277 YO, tewas mengenaskan setelah dihantam truk Hino E 9288 GW.
Tragedi berdarah ini bukan sekadar angka dalam statistik kecelakaan lalu lintas. Ini adalah cermin buram dari pembiaran dan kesewenang-wenangan yang terus memakan korban jiwa di jalan raya.
Jalan Umum Dijadikan Lapak Antrean Pribadi
Di balik duka mendalam keluarga korban, ada fakta pahit yang memicu amarah publik: kawasan sekitar SPBU tersebut telah lama menjadi "zona merah" kemacetan dan bahaya. Antrean kendaraan yang mengular—yang didominasi oleh para pelangsir BBM—secara serakah memakan separuh ruas jalan umum. Hak pengguna jalan yang taat aturan dirampas, digantikan oleh barisan kendaraan pemburu solar dan pertalite yang parkir sembarangan tanpa memedulikan keselamatan orang lain.
Bagaimana bisa jalan lintas provinsi yang padat aktivitas masyarakat dan mahasiswa justru berubah menjadi jalur maut akibat antrean tak teratur yang dibiarkan bertengger saban hari?
Uji Ketegasan Polda Jambi dan Jajaran Polres
Masyarakat sudah muak dengan imbauan manis dan operasi formalitas. Tragedi Mendalo Darat ini adalah tamparan keras bagi aparat kepolisian. Publik kini menagih keberanian dan ketegasan nyata dari Polda Jambi beserta seluruh jajaran Polres di Wilayah Hukum Provinsi Jambi.
Sikat Habis Pelangsir BBM: Jangan biarkan oknum pelangsir menjadikan bahu dan badan jalan sebagai lahan parkir antrean pribadi.
Tindak Tegas SPBU Nakal: SPBU yang membiarkan antrean meluber hingga mengganggu arus lalu lintas utama harus diberi sanksi keras, hingga penutupan izin operasional jika perlu.
Penertiban Rutin, Bukan Angat-Angat Tahi Ayam: Patroli dan penertiban jangan hanya muncul ketika ada nyawa yang melayang, lalu menguap begitu saja saat berita mereda.
Jalan raya dipbiayai oleh uang rakyat untuk mobilitas publik, bukan untuk dijadikan arena pertaruhan nyawa akibat ketidaktegasan menertibkan antrean BBM. Berapa banyak lagi nyawa warga Jambi yang harus melayang di aspal sebelum hukum benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu?
Kapolda Jambi dan seluruh Kapolres, masyarakat menunggu tindakan konkret Anda di lapangan hari ini juga—bukan esok, bukan nanti.
Redaksi

