Jakarta, Newslan.id ā Puluhan warga Suku Anak Dalam (SAD) dari Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, terus bertahan di Jakarta untuk memperjuangkan hak atas tanah ulayat adat mereka yang hingga kini belum mendapatkan penyelesaian yang dianggap adil.
Warga SAD bersama sejumlah petani dari Dusun Kunangan Jaya I, Desa Bungku, berangkat ke Jakarta sejak 19 Juni 2026. Mereka menyampaikan tuntutan kepada pemerintah pusat terkait konflik lahan yang telah berlangsung selama puluhan tahun dengan sejumlah perusahaan perkebunan, yakni PT Bangun Desa Utama (BDU), PT Asiatik Persada, dan PT Berkat Sawit Utama (BSU).
Menurut perwakilan masyarakat, konflik tersebut berawal sejak tahun 1986 dan hingga saat ini belum menemukan solusi yang benar-benar menyentuh hak-hak masyarakat adat yang mengklaim sebagai pemilik asli wilayah tersebut. Mereka menuntut pengakuan dan pengembalian tanah ulayat adat seluas kurang lebih 1.291 hektare yang berada di Dusun Tanah Menang atau Dusun II Johor Baru, Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari.
Selama berada di Jakarta, para peserta aksi bertahan dengan berbagai keterbatasan. Mereka menginap di lokasi terbuka dan tetap menyuarakan aspirasi agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan yang telah berlangsung selama hampir empat dekade tersebut.
Selain masyarakat SAD, aksi ini juga mendapat dukungan dari petani Dusun Kunangan Jaya I yang mengaku menghadapi persoalan agraria terkait lahan yang berada dalam kawasan hutan. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan kepastian hukum dan solusi yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat yang terdampak.
Masyarakat meminta pemerintah pusat, kementerian terkait, serta pihak-pihak yang berwenang untuk segera memfasilitasi dialog dan penyelesaian konflik secara transparan, sehingga hak-hak masyarakat adat dan petani dapat terlindungi sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kami berharap ada penyelesaian yang adil dan berpihak kepada masyarakat yang selama ini memperjuangkan hak atas tanah leluhurnya," ujar salah seorang peserta aksi.
Hingga berita ini ditulis, masyarakat SAD dan petani yang tergabung dalam perjuangan tersebut masih menunggu respons dan langkah konkret dari pemerintah terkait tuntutan yang mereka sampaikan.
(Redaksi Newslan.id)


