Jakarta Newslan.id – Ekspansi masif Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) ke sektor ritel desa memicu kekhawatiran pelaku usaha. Sejumlah gerai Alfamart dan Indomaret di daerah dilaporkan mulai terdampak setelah KDMP buka toko serupa dengan harga lebih murah dan didukung program pemerintah.
Kondisi Ritel Modern
Sejak KDMP diluncurkan masif 2025, beberapa waralaba Alfamart dan Indomaret di Jawa Tengah, NTB, dan Lampung mengeluh omzet turun 30-40%. KDMP masuk dengan model “satu desa satu koperasi” yang jual sembako, pulsa, hingga LPG bersubsidi. Harga dipangkas karena dapat akses distributor BUMN dan bebas biaya sewa.
Aprindo menyebut, jika tidak ada zonasi jelas, ritel modern di desa bisa kalah bersaing. “Ini bukan tolak koperasi. Tapi kalau semua difasilitasi negara lalu head-to-head dengan swasta tanpa aturan main, ya berat,” kata Roy Mandey, Ketua Aprindo, Senin 01/06/2026.
Lalu Bagaimana dengan ISP?
Isu selanjutnya: apakah Internet Service Provider (ISP) swasta juga bakal “dihantam” program sejenis? Kekhawatiran muncul setelah ada wacana Indonesian Rural Access (IRA) – program internet desa berbasis koperasi/BUMDes yang dapat insentif bandwidth murah dari Kominfo dan BAKTI.
Bedanya dengan ritel, sektor ISP punya 3 catatan:
1. Regulasi Sudah Ketat: ISP wajib punya izin penyelenggaraan dari Kominfo. Tidak bisa tiba-tiba buka layanan tanpa frekuensi & infrastruktur. KDMP/IRA harus kerja sama dengan ISP existing jika mau jual ulang.
2. Capex Jumbo: Bangun jaringan fiber & BTS butuh triliunan. Koperasi sulit masuk tanpa investor atau APBN. Sejauh ini IRA masih pilot di 1.200 desa, fokus jadi reseller, bukan bangun jaringan sendiri.
3. Peran Komplementer: APJII menilai IRA bisa bantu ISP besar perluas jangkauan. “Daripada bangun kantor di desa, ISP bisa gandeng koperasi sebagai agen. Win-win, bukan saling hantam,” ujar Ketua APJII.
Sikap Pemerintah
MenKop Budi Arie menegaskan KDMP tidak untuk mematikan swasta. “Ritel modern silakan tetap jalan. KDMP isi celah yang tidak digarap. Kalau ada tumpang tindih, diatur lewat zonasi Kemendag,” katanya.
Soal IRA, Dirjen PPI Kominfo Wayan Toni bilang program itu untuk kejar target 100% desa sinyal 2026. “IRA beli bandwidth grosir, dijual eceran lewat BUMDes. ISP tetap dapat pelanggan. Tidak ada niat sikat bisnis orang.”
Analisis: Kolaborasi vs Kompetisi
Ekonom INDEF Eko Listiyanto menilai, benturan KDMP-ritel modern terjadi karena keduanya jualan barang sama di pasar sama. ISP beda cerita. “Internet itu infrastruktur. Makin banyak yang pakai, makin untung semua operator. Ancaman ke ISP kecil iya, tapi ke ISP besar justru peluang tambah trafik.”
Meski begitu, ISP lokal minta jaminan. Jika IRA dapat spektrum khusus atau subsidi tiang listrik, itu jadi persaingan tidak sehat. “Kami bayar BHP, pajak, PPN. Kalau koperasi dikasih gratis, ya kolaps,” kata bos ISP di Jawa Timur.
Kesimpulan Sementara
1. Alfamart/Indomaret: Sudah kena dampak nyata di kantong desa. Tergantung revisi Permendag soal zonasi ritel.
2. ISP: Belum ada “hantaman kasar”. IRA posisi masih mitra, bukan kompetitor langsung. Risiko muncul kalau insentifnya kebablasan.
Pemerintah diminta tegas bikin level playing field. Koperasi jalan, swasta jalan, konsumen yang untung.(Redaksi)
Sumber: Kemenkop, Kominfo, Aprindo, APJII per 01/06/2026


