JAKARTA NEWSLAN.ID ā Di balik megahnya wacana jaring pengaman sosial, publik menyajikan komedi satir yang getir: ribuan Bantuan Sosial (Bansos) dengan cepat dan sigap dinonaktifkan oleh kementerian terkait karena terindikasi mengalir ke transaksi judi online. Namun, di sisi lain, aplikasi judi online terus menjamur, bertransformasi, dan dengan bebas menyedot uang rakyat tanpa pemblokiran yang tuntas.
Logika negara sedang terbalik. Pemerintah seolah-olah garang menindak korban, tetapi melempem melawan mesin pencetak masalahnya. Menutup keran bansos untuk warga miskin yang kecanduan judi memang terdengar tegas, tetapi itu hanyalah cara malas menyelesaikan persoalan. Bansos dinonaktifkan, lalu setelah itu apa? Apakah masalah judi selesai? Sama sekali tidak.
Sikap memblokir rekening bansos sembari membiarkan platform judi online beroperasi bebas ibarat mematikan kipas angin untuk mengusir asap, tetapi merawat pabrik keakarannya. Otoritas terkait kerap mengklaim telah menindak puluhan ribu situs, tetapi kenyataannya aplikasi dan tautan judi baru tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Mengapa ruang digital Indonesia begitu leluasa bagi para bandar, sementara ruang hidup rakyat kecil justru kian terjepit?
Jika pemerintah memang memiliki nyali dan komitmen tuntas, sapu bersih itu harus dimulai dari sarangnya. Blokir total sistem pembayaran, kejar dan tindak tegas para bandar, serta bongkar jaringan pemelihara platform haram ini. Jangan hanya gagah mencabut hak perut rakyat miskin, sementara para bandar judi online melenggang bebas menikmati miliaran rupiah hasil perasan uang rakyat.
Rakyat tidak butuh pameran data statistik bansos yang dicabut demi citra ketegangan semu. Yang dibutuhkan negeri ini adalah keberanian nyata otoritas untuk meruntuhkan kerajaan judi online sampai ke akar-akarnya, bukan sekadar menjaganya tetap hidup lalu menyalahkan rakyat yang terjerat di dalamnya.
Redaksi


