EDITORIAL NEWSLAN.ID. MBG: Program Raksasa Tanpa Kompas Pengaduan, Siapa Mau Tanggung Jawab?
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai megaproyek penyelamat generasi masa depan. Anggarannya fantastis, publisitasnya membahana, dan jajaran pejabat berlomba-lomba tampil di depan kamera saat pembagian nampan makanan. Namun, di balik megahnya selebrasi itu, ada realita absurd yang bikin menggelengkan kepala: ketika terjadi masalah di lapangan, para guru dan sekolah justru kebingungan harus melapor ke siapa.
Ini bukan sekadar teknis kecil, ini adalah cermin dari buruknya tata kelola. Bagaimana mungkin sebuah program nasional bertaraf triliun rupiah berjalan tanpa jalur pengaduan (crisis center) yang terintegrasi, jelas, dan responsif?
Saat makanan basi, porsi tak layak, atau ada anak yang diduga keracunan, siapa yang bertindak? Apakah guru harus meraba-raba birokrasi yang berbelit, berteriak di media sosial, atau dipaksa "menelan sendiri" kekacauan tersebut demi menjaga citra program?
Kondisi ini sangat membagongkan. Praktik "lempar batu sembunyi tangan" adalah momok klasik birokrasi kita. Ketika acara peluncuran, semua instansi mengklaim paling berperan. Namun, ketika muncul persoalan, respons yang muncul sering kali adalah aksi saling tunjuk:
Badan Gizi Nasional menyalahkan vendor penyedia makanan.
Vendor beralasan masalah distribusi di lapangan.
Dinas Pendidikan merasa itu bukan kewenangannya secara teknis.
Dan akhirnya, sekolah serta masyarakat yang jadi korban pembiaran.
Pemerintah tidak boleh jumawa dan tutup mata. Mengandalkan kanal pengaduan generik yang lamban dan formalitas semata adalah bentuk pengabaian terhadap keselamatan anak-anak sekolah.
Newsland ID Menegaskan: Pemerintah wajib segera membuka satu kanal pengaduan terpadu (single hotline/crisis center MBG) yang beroperasi secara transparan, akuntabel, dan bebas dari intimidasi. Publik—terutama para guru di garis depan—berhak tahu ke mana laporan dikirim, siapa pejabat yang bertanggung jawab menindaklanjuti, dan berapa lama batas waktu penyelesaiannya.
Jangan biarkan program bernilai strategis ini bernasib seperti proyek "hangat-hangat tahi ayam": ramai di awal untuk panggung politik, tapi cuci tangan dan bungkam saat rakyat meminta pertanggungjawaban!


