Merangin Newslan.id . Dan akhirnya rakyat Konoha sampai pada satu pertanyaan sederhana, tetapi juga paling menakutkan:
Bagaimana jika masalah terbesar MBG bukan sekadar oknum, melainkan desain kekuasaannya sendiri?
Karena semakin banyak detail terbuka, semakin terasa skandal ini bukan lagi cerita satu dua pejabat nakal. Ini mulai terlihat seperti gejala sistemik.
Program yang awalnya dijual sebagai proyek kemanusiaan: memberi makan anak, memperbaiki gizi, menyelamatkan generasi masa depan. Perlahan berubah menjadi labirin vendor, yayasan, pengadaan, dan rantai distribusi uang yang terlalu gemuk untuk disebut sekadar program sosial biasa.
Di titik inilah kritik paling tajam muncul: mungkin sejak awal MBG dibangun terlalu sentralistik. Terlalu besar. Terlalu cepat. Terlalu banyak uang berputar dalam satu orbit kekuasaan.
Dalam teori politik dan ekonomi, semakin besar konsentrasi anggaran di satu lembaga, semakin besar pula godaan rente. Apalagi ketika pengawasan lemah, vendor banyak, pengadaan masif, dan akses program ditentukan lewat jejaring kedekatan.
Maka program sosial perlahan berubah fungsi. Bukan lagi sekadar bantuan publik. Tetapi mesin distribusi keuntungan.
Dan rakyat mulai melihat sesuatu yang ironis: semakin besar slogan “demi rakyat,” semakin besar pula potensi proyek di belakangnya. Karena di Konoha, kata “strategis nasional” kadang terdengar seperti alarm: “Siapkan vendor.”
Yang membuat publik makin geram adalah kontradiksi moralnya. Di satu sisi, rakyat diminta memahami bahwa negara sedang bekerja keras menyelamatkan gizi anak bangsa. Tetapi di sisi lain, yang muncul justru dugaan motor listrik triliunan, TV 75 inci, tablet, event organizer, kaos kaki mahal, hingga yayasan terafiliasi.
Sementara anak-anak sekolah? Sebagian malah keracunan makanan. Sungguh metafora yang terlalu sempurna. Anggaran ratusan triliun bergerak megah di atas kertas, tetapi di lapangan justru muncul dapur tidak higienis dan makanan bermasalah. Seolah yang benar-benar bergizi bukan anak-anak, melainkan ekosistem proyeknya.
Dan ketika ada kajian menyebut dana sebesar itu jika dibagikan langsung ke keluarga miskin bisa jauh lebih terasa manfaatnya, publik mulai bertanya: Apakah negara benar-benar sedang membantu rakyat, atau sedang membangun industri baru bernama “pengelolaan bantuan”?
Karena setiap lapisan birokrasi berarti potongan, vendor, margin, fee, operasional, koordinasi, pengadaan. Dalam sistem seperti itu, rakyat miskin sering hanya mendapat remah dari gunung anggaran.
Maka gagasan desentralisasi mulai terdengar masuk akal. Biarkan sekolah mengelola langsung. Libatkan komunitas lokal. Libatkan UMKM sekitar. Buat pengawasan transparan. Kurangi rantai distribusi elite. Karena semakin panjang rantai kekuasaan, semakin besar peluang uang rakyat menguap di tengah jalan.
Yang paling menyedihkan bukan hanya dugaan korupsinya. Tetapi rusaknya makna dari kata “gizi”. Karena program yang seharusnya jadi simbol perhatian negara terhadap masa depan anak, kini justru berubah jadi simbol ketidakpercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran.
Dan ketika rakyat mulai mengaitkan program makan anak dengan vendor, mark-up, dan proyek kroni, itu artinya yang rusak bukan hanya lembaganya. Tetapi imajinasi kolektif tentang negara itu sendiri.
Kini publik sampai pada kesimpulan pahit: barangkali masalahnya bukan sekadar siapa yang duduk di kursi BGN. Tetapi apakah kursi itu memang sejak awal dirancang terlalu dekat dengan godaan kekuasaan dan uang.
Karena sejarah berkali-kali menunjukkan: ketika anggaran raksasa dipusatkan, transparansi minim, dan loyalitas politik lebih dominan daripada kapasitas, yang tumbuh subur sering kali bukan kesejahteraan rakyat. Melainkan jaringan rente.
Dan rakyat Konoha kini hanya bisa memandang semua ini sambil menarik napas panjang. Sebuah program yang awalnya dijual sebagai harapan generasi emas, perlahan berubah menjadi drama nasional tentang vendor, yayasan, pengadaan, dan rompi tahanan.
Sungguh ironi pembangunan yang sangat mahal.
Redaksi Newslan.id
Newslan.id - Edukasi_Investigasi_Terpercaya

