NEWSLAND ID - JAKARTA. Asap tebal kembali mengepul, mengangkut penderitaan jutaan rakyat yang melarat akibat sesak napas. Namun di balik tragedi kemanusiaan dan kehancuran ekologis yang berulang saban tahun ini, tersimpan aroma amis yang tak kalah menyengat: dugaan praktik "bancakan" proyek dan manipulasi kebijakan oleh oknum pemangku kekuasaan.
Fenomena Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tak lagi bisa melulu ditumpahkan kesalahannya pada langit, cuaca ekstrem, atau fenomena El Niño. Publik makin muak dengan narasi klasik yang seolah menempatkan alam sebagai satu-satunya kambing hitam. Faktanya, Karhutla adalah potret telanjang bobroknya tata kelola lahan yang diduga sengaja dipelihara demi kepentingan segelintir elit.
Metode Murah, Siasat Licik
Bukan rahasia lagi bahwa membakar lahan adalah cara paling instan dan murah meriah untuk land clearing. Demi memangkas biaya operasional hingga miliaran rupiah, korporasi nakal bersama oknum lapangan memilih membakar ketimbang menyewa alat berat.
Anehnya, meski titik panas (hotspot) terlihat terang benderang dari satelit, penegakan hukum kerap mendadak "rabun ayam". Izin usaha perkebunan tetap meluncur mulus, tumpang tindih lahan dibiarkan liar, dan pengawasan di lapangan terkesan sebatas formalitas di atas kertas.
Lingkaran Setan Anggaran Penanggulangan
Yang paling ironis, Karhutla seolah berubah menjadi "komoditas" bernilai fantastis. Setiap kali tanggap darurat ditetapkan, kran anggaran penanggulangan—mulai dari dana operasional pemadaman, helikopter water bombing, hingga proyek rehabilitasi lahan—mengalir deras.
Bukannya fokus pada pencegahan permanen sejak dini, regulasi dan eksekusi di lapangan kerap terkesan 'dibiarkan membara' terlebih dahulu agar dana darurat bisa dicairkan. Bencana dibiarkan meletus, proyek pemadaman pun meluncur. Sebuah lingkaran setan yang menguntungkan para pemburu rente, sementara masyarakat dibiarkan menelan asap racun.
Sampai kapan negara kalah oleh oligarki dan oknum pejabat bermental mafia? Jika penegakan hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke oligarki, maka Karhutla bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan kejahatan sistematis yang dipelihara secara berjamaah.
Redaksi


