Oleh: Muhamad Akbar, Pengamat Transportasi
Newslan-id Jakarta. Bayangkan Anda hendak menyeberang di jalan yang ramai. Dua menit berdiri di zebra cross yang memudar. Kendaraan melaju, tak satu pun berhenti. Anda menunggu celah, lalu setengah berlari. Di trotoar, motor kerap naik, pedagang menggelar dagangan, ubin hilang entah ke mana. Di beberapa titik, trotoar putus tanpa transisi, memaksa Anda turun ke badan jalan.
Pengalaman semacam itu bukan cerita satu-dua orang. Ia adalah pengalaman kolektif warga kota di Indonesia. Karena itu, ketika sebuah studi Stanford University berjudul Large-Scale Physical Activity Data Reveal Worldwide Activity Inequality yang terbit di jurnal Nature (2017) ramai diberitakan media internasional, banyak orang tidak benar-benar terkejut. Dalam pemberitaan The Jakarta Post, Indonesia disebut sebagai negara dengan rata-rata langkah harian terendah, sekitar 3.513 langkah per hari—jauh di bawah sejumlah negara lain yang mencapai lebih dari 6.000 langkah.
Namun angka itu terlalu cepat diterjemahkan sebagai vonis “malas”. Kata “malas” menyalahkan karakter bangsa, seolah rendahnya aktivitas berjalan kaki adalah soal mentalitas. Padahal, persoalannya lebih struktural. Jika berjalan kaki terasa melelahkan dan berisiko, rendahnya jumlah langkah bukanlah anomali. Ia konsekuensi logis dari kota yang terlalu lama dibangun untuk kendaraan, bukan untuk manusia.
Dari titik inilah sejumlah hipotesis patut dibaca: mulai dari motorisasi yang masif, ruang pejalan kaki yang hadir setengah hati, keselamatan jalan yang rapuh, transportasi publik yang lama tidak membiasakan walking distance, hingga stigma sosial yang menempatkan kendaraan sebagai simbol status.
130 Juta Motor dan Hilangnya Tradisi Berjalan Kaki
Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan sepeda motor paling pesat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah sepeda motor telah melampaui 130 juta unit dalam beberapa tahun terakhir. Tak mengherankan jika di banyak kota motor bukan lagi sekadar moda transportasi, melainkan alat bertahan hidup: murah, fleksibel, menembus kemacetan, dan menjangkau gang sempit yang tak terlayani transportasi publik.
Namun motor juga mengubah cara masyarakat memandang jarak. Jarak 300 meter hingga satu kilometer—yang di banyak negara dianggap wajar ditempuh dengan berjalan kaki—di sini sering terasa terlalu jauh. Perjalanan ke warung, masjid, rumah tetangga, atau minimarket pun tetap ditempuh dengan motor. Bukan karena orang tak sanggup berjalan, melainkan karena perjalanan pendek seolah tidak lagi pantas dilakukan dengan kaki.
Dari kebiasaan itu lahir logika baru: jika kendaraan tersedia, murah, dan terasa lebih aman dari panas, hujan, serta risiko lalu lintas, maka berjalan kaki langsung dianggap tidak praktis. Kota pun ikut menyesuaikan diri. Ruang jalan semakin diprioritaskan untuk kendaraan, sementara ruang bagi pejalan kaki makin tersisih.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola ini makin menguat lewat layanan ojek online. Layanan door-to-door membuat perjalanan lima menit berjalan kaki cukup diselesaikan dengan satu klik. Fenomena serupa mulai tampak pada sepeda listrik di kawasan permukiman: jarak yang dulu lazim ditempuh dengan kaki kini perlahan “diambil alih” oleh kendaraan, sekecil apa pun dayanya. Motor, pada akhirnya, bukan hanya menghapus jarak dekat, tetapi juga menghapus kesempatan kecil masyarakat untuk bergerak.
Trotoar: Infrastruktur yang Hadir Setengah Hati
Jika motor adalah sebab perilaku, maka trotoar adalah sebab struktural. Sulit membayangkan masyarakat menjadikan berjalan kaki sebagai kebiasaan jika ruang pejalan kaki tidak pernah benar-benar disediakan secara layak. Nyatanya, di banyak kota trotoar masih sering putus, sempit, berlubang, dan tidak rata. Ia bisa tampak rapi di satu ruas, tetapi lenyap di ruas berikutnya—seolah dibangun tanpa kesinambungan.
Ironisnya, trotoar yang tersisa pun kerap kehilangan fungsi. Ia berubah menjadi tempat parkir, lapak dagangan, bahkan jalur motor ketika kemacetan datang. Akibatnya, berjalan kaki bukan pengalaman yang menenangkan, melainkan melelahkan. Pejalan kaki dipaksa zig-zag menghindari hambatan, turun ke badan jalan, lalu naik kembali. Bagi banyak orang, kondisi ini membuat berjalan kaki terasa seperti pilihan kelas dua.














