JAMBI NEWSLAN.ID — Kunjungan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, ke Jambi pada Jumat (31/7/2026) disambut hangat sekaligus dimanfaatkan oleh para aktivis budaya lokal untuk menyuarakan desakan tegas. Mereka kembali menuntut penutupan stockpile (penampungan) batu bara yang beroperasi di sekitar kawasan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muaro Jambi.
Keberadaan stockpile tersebut dinilai telah mengancam kelestarian situs sejarah berharga tersebut akibat paparan debu dan polusi industri.
Perwakilan Gerakan Mahasiswa Pagar Budaya (GEMA-PB), Adjie Permana—aktivis yang sebelumnya juga sempat mencegat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait isu serupa—menyampaikan langsung keluhannya kepada Fadli Zon. Ia menyoroti dampak nyata debu batu bara yang kian merusak kawasan cagar budaya.
Menanggapi aduan langsung tersebut, Fadli Zon memberikan respon keras dan berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap pihak perusahaan yang membandel.
"Siapa pemiliknya akan saya undang, kalau misalnya masih membandel juga saya akan usulkan supaya ditutup saja!" tegas Fadli Zon di lokasi.
Di tempat terpisah, nada skeptis namun tetap kritis disampaikan oleh Mukhtar Hadi, atau yang akrab disapa Borju, dari Rumah Menapo Muaro Jambi. Ia mengingatkan bahwa janji serupa sudah berulang kali terdengar sejak empat tahun lalu tanpa ada tindakan riil di lapangan.
"Persoalan ini sudah berkali-kali disampaikan kepada pemerintah sejak 2022, namun hingga kini belum ada langkah nyata," ungkap Borju.
Bagi para aktivis dan masyarakat sekitar, ketegasan Menbud Fadli Zon kali ini akan menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah pusat dalam melindungi warisan sejarah bangsa.
"Jadi sekarang menunggu eksekusinya saja. Kalau terealisasi, berarti beliau serius menangani masalah ini. Karena sampai hari ini belum ada yang nyata, cuma janji-janji. Tugas kita terus memantik api perlawanan ini," tambah Borju.
Pernyataan keras Menbud Fadli Zon kini menaruh sorotan publik nasional maupun daerah kepada Kementerian Kebudayaan dan instansi terkait. Masyarakat kini menantikan apakah gertakan penutupan stockpile tersebut benar-benar dieksekusi demi menyelamatkan lanskap budaya Candi Muaro Jambi dari ancaman kerusakan permanen.
Redaksi


