Penulis : Nurul Azizah
Newslan-id. Saat Bupati Pekalongan ibu Fadia Arafiq kena operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Selasa 3 Maret 2026, maka pemberitaan tentang kasus ini mencuat di media sosial. Banyak yang posting tentang kasus korupsi dari Fadia Arafiq. Termasuk penulis, memposting juga di Facebook (FB) gambar kebersamaan Fadia dengan Jokowi diberi narasi : "ini orangnya ternyata tidak jauh-jauh dari sumber kerusakan NKRI". Postingan ini dikomentari secara sadar dan waras oleh beberapa teman FB: ada yang komen : "rata-rata bermasalah". "Semua yang dekat dengan Jokowi bermasalah". "Ulere Negoro". "Bolone (temannya)". Ada lagi yang komen : "mbak Nurul Azizah banyak pejabat termul yang ketangkep. Kapan ya giliran juragannya?".
"Yang setor bisa ditangkap tetapi yang terima setoran gak pernah bisa ditangkap". Ada juga yang komen : "titipan".
Tapi ada juga komen yang kurang waras, yaitu akun UD komennya: "Bukankah setiap dosa dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri. Kita disuruh tutup aib orang lain. Kalau yang dibicarakan aib orang maka janganlah ungkit kalau gak bisa menutup. Maaf saudaraku sesama guru."
MT (akun waras) menyanggah komen dari UD : "Kalau melihat kemungkaran cegahlah dengan kekuatanmu, jika tak mampu cegahlah dengan nasehatmu, jika masih tak mampu cukuplah kau ingkari kemungkaran itu dalam hatimu, dan itu tanda imanmu rendah".
Akun ST menjawab dari komen UD : "UD itu guru termul (ternak Mulyono), semoga seperti Bu guru Nurul Azizah taubat jadi pengikut dan pembela mister king of trouble maker. Alhamdulillah Barokallah".
Ada yang komen "Yang masalah yang posting", akun ST ini memang dari awal hingga sekarang penggemar berat Jokowi. Tidak akan berubah pikirannya walau Jokowi itu banyak melakukan kesalahan dan gemar berbohong. Jadi kalau junjungannya disenggol maka dia terus komen yang nyeleneh. Tanpa pikir panjang kebenaran berita.
Tiba-tiba tidak ada angin dan hujan muncullah pengikut akut Jokowi yang cinta mati pada junjungannya ikut komentar: "Ternyata bulan suci, memprovokasi tetap jalan ya? Astaghfirullah hal 'adzim, eman-eman puasane ustadzah," komen dari akun inisial WW.
Ketololan para pengikut Jokowi dalam menyikapi OTT KPK terhadap para pejabat publik atau kepala daerah yang melakukan korupsi membawa ke ranah agama, itu sangat lucu dan bodoh atau oon. Pelaku korupsi dan perusak NKRI tidak akan pernah peduli tentang agama, tidak peduli uang hasil korupsi itu haram hukumnya. Pelaku korupsi itu tidak peduli punya agama apa? Lihat saja para koruptor walau melanggar agama, tetap saja dilakukan, merampok uang rakyat, merugikan negara, memperkaya diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Para koruptor itu tidak punya hati nurani, tidak takut dosa, tidak takut adzab Allah SWT. Tidak takut siksa dunia, kelak ketika di alam kubur dan di akhirat nanti.
Pelaku korupsi tidak takut terhadap sanksi hukum (penjara, denda, penyitaan aset), kehancuran reputasi, dikucilkan secara sosial, serta hilangnya mata pencaharian yang sah. Para pelaku korupsi secara psikologis hidup dalam kecemasan konstan, beban moral dan ketidakpastian masa depan, serta merusak etos kerja dan moral.
Para pejabat publik, bupati atau mantan pejabat publik yang sudah ditangkap oleh komisi pemberantasan korupsi rata-rata dekat dengan Presiden ke-7, sebut saja Tom Lembong mantan menteri perdagangan RI. Nadiem Makarim pengusaha dan mantan menteri pendidikan dan kebudayaan RI. Yaqut Cholil Qoumas mantan menteri agama RI ditetapkan KPK sebagai tersangka dugaan korupsi tambahan kuota haji tahun 2024. Mereka semua mantan menteri Presiden ke-7 menyebut nama Jokowi. Cuma Jokowi masih kebal hukum, sampai saat ini belum disentuh oleh KPK.






