NEWSLAN.ID JAKARTA – Kabar buruk bagi sektor sawit. Sebanyak 123 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Sumatra dan Kalimantan terancam berhenti operasi dalam 6 bulan ke depan. Jika benar terjadi, gelombang pengangguran di daerah sentra sawit dipastikan melonjak.
3 Pemicu Utama Penutupan
1. Harga CPO Anjlok: Harga tandan buah segar (TBS) petani jatuh ke Rp1.200/kg. Pabrik rugi kalau beli TBS di atas Rp1.400/kg. Banyak PKS pilih stop giling.
2. Aturan Limbah Ketat: KLHK memperketat izin IPAL PKS. Ada 40 pabrik di Riau-Jambi disegel karena limbah. Biaya upgrade IPAL Rp15-20 miliar per pabrik, tak semua kuat.
3. Efisiensi Korporasi: Grup besar mulai tutup PKS kecil kapasitas <30 ton/jam. Dipindah ke pabrik besar yang lebih modern. Satu PKS tutup = 150-200 buruh langsung kena.
Ketua Apkasindo, Gulat ME Manurung, buka suara. “1 PKS rata-rata serap 180 tenaga kerja langsung. Kalau 123 tutup, berarti 22.140 buruh pabrik kehilangan kerja. Belum sopir truk, buruh panen, dan warung sekitar pabrik,” katanya, Kamis 28/05/2026.
Data Apkasindo, multiplier effect sawit 1:7. Artinya 22 ribu PHK buruh pabrik bisa berdampak ke 154.980 orang yang kehilangan sumber nafkah di hulu-hilir.
Daerah Paling Rawan ;
1. Riau: 47 PKS terancam. Kabupaten Kampar & Pelalawan zona merah.
2. Kalimantan Barat: 31 PKS. Ketapang & Sanggau paling kena.
3. Sumut & Jambi: Masing-masing 18 dan 15 PKS.
DPR Komisi IV minta Kementan dan Kemenperin cegah PHK massal. “Jangan sampai sawit yang jadi tulang punggung ekspor malah bikin pengangguran baru. Harus ada insentif atau relaksasi aturan IPAL,” kata Daniel Johan, anggota Komisi IV.
Sementara Dirjen Perkebunan Kementan, Andi Nur Alam Syah, menyebut akan verifikasi data 123 PKS itu. “Kami cek dulu. Kalau benar karena aturan, kita carikan jalan tengah. Nggak mungkin korbankan buruh,” ujarnya.
Federasi Serikat Buruh Sawit Indonesia ancam demo besar jika PHK terjadi. “Kami minta jaminan tidak ada PHK. Kalau pabrik tutup, negara harus hadir kasih solusi,” tegas Ketum FSBSI, Sunardi.
(red)


