MERANGIN, NEWSLAN.ID – Ada-ada saja cara masyarakat menyampaikan kritik. Di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi perhatian di Provinsi Jambi, warga Pamenang, Kabupaten Merangin, melontarkan sindiran yang menohok: oleh-oleh dari Jambi bukan lagi dodol atau makanan khas daerah, melainkan asap!
Sindiran tersebut menjadi gambaran keresahan masyarakat terhadap persoalan karhutla yang terus menjadi perhatian. Pesan satir itu sekaligus menyentil pemerintah provinsi, termasuk Gubernur Jambi Al Haris, agar penanganan kebakaran tidak hanya berfokus pada pemadaman saat api muncul, tetapi juga pada pencegahan dan perlindungan masyarakat.
Kalau orang bepergian biasanya membawa buah tangan untuk keluarga, sindiran warga Pamenang justru berbeda.
“Oleh-oleh lagi viraldari Jambi: asap!”
Kalimat singkat itu menyimpan pesan yang cukup tajam. Asap bukanlah cendera mata yang membanggakan. Asap dapat mengganggu aktivitas, menurunkan kenyamanan, dan berisiko terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Melalui sindiran tersebut, publik diajak bertanya: ketika karhutla kembali menjadi persoalan, sejauh mana langkah pencegahan dan penanganan yang dilakukan pemerintah benar-benar dirasakan masyarakat?
Penanganan karhutla bukan pekerjaan satu pihak saja. Pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, BPBD, TNI-Polri, petugas pemadam, pelaku usaha, dan masyarakat memiliki peran masing-masing.
Namun, sebagai kepala daerah provinsi, Gubernur Jambi memiliki tanggung jawab dalam koordinasi dan kebijakan penanganan bencana di tingkat provinsi.
Masyarakat tentu tidak cukup hanya mendengar laporan rapat, instruksi, atau pengerahan petugas. Mereka juga membutuhkan informasi yang terbuka mengenai titik api, luas lahan terbakar, perkembangan pemadaman, kondisi kualitas udara, serta langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa.
Jangan sampai masyarakat lebih mudah mengenali aroma asap daripada merasakan hasil nyata kebijakan pencegahan karhutla.
Sindiran warga Pamenang ini bukan sekadar permainan kata. Di balik humor tersebut terdapat pertanyaan yang patut dijawab oleh para pemangku kebijakan: bagaimana memastikan masyarakat tidak terus menghadapi ancaman asap setiap kali karhutla terjadi?
Pemerintah perlu menjadikan kritik masyarakat sebagai bahan evaluasi, bukan sekadar angin lalu. Pencegahan kebakaran, pengawasan lahan rawan, penegakan hukum terhadap pelanggaran yang terbukti, serta perlindungan kesehatan warga harus berjalan beriringan.
Sebab, bagi masyarakat, keberhasilan penanganan karhutla bukan diukur dari seberapa sering persoalan dibicarakan, melainkan dari seberapa efektif risiko kebakaran dan paparan asap dapat dikurangi.
Pada akhirnya, warga Pamenang telah menyampaikan sindiran dengan cara sederhana, tetapi pesannya jelas: masyarakat ingin menikmati udara bersih, bukan menerima asap sebagai oleh-oleh dari daerahnya sendiri.
Kritik ini menjadi pengingat bagi pemerintah Provinsi Jambi agar terus memperkuat upaya pencegahan, mempercepat penanganan di lapangan, dan menyampaikan perkembangan secara transparan kepada publik.
Karena oleh-oleh terbaik dari Jambi seharusnya adalah alam yang terjaga, udara yang bersih, dan masyarakat yang merasa terlindungi—bukan asap yang membuat semua orang mengelus dada.
NEWSLAN.ID – Edukasi, Investigasi, Terpercaya.
