Penulis : Nurul Azizah
Newslan.id. Geram sekali mendengar dari berbagai sumber di media sosial ada kiai, alim, sering berfatwa kepada santrinya ternyata dia dijuluki "Sang Predator". Kiai cabul asal Tlogosari kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati ini telah mencabuli 50 santriwati di ponpes yang diasuhnya. Predikat "Kiai Cabul" telah melekat pada dirinya. Tampaknya alim cuma kedok doang. Alim di tangan yang salah mempunyai daya rusak tinggi. Merusak masa depan santriwati yang telah dilecehkan dan digauli, bahkan disetubui dengan cara yang menjijikan.
Kiai bejat tukang cabul ini memanfaatkan kedudukan sebagai pimpinan ponpes dan memiliki uang yang banyak untuk memanipulasi pikiran para santrinya. Yaitu dengan melayani kiai akan mendapatkan karomah dan ngalap berkah. Ashari (AS) mencuci otak para santriwati dengan dalih melayani kebutuhan biologis dan nafsu sang kiai merupakan bentuk ketaatan yang tinggi untuk mendapatkan "keberkahan ilmu atau karomah".
Para korban diancam jika menolak ajakan kiai akan kualat, menjadi gila, tertutup pintu rejeki, dan celaka seumur hidup. Juga mengancam para korban apabila menceritakan kejadian tersebut kepada orang tua.
Para santriwati korban pelecehan seksual begitu patuh dan takut yang luar biasa apabila keinginan bejat sang kiai dia tolak. Budaya patuh kepada kiai dan tidak bisa menolak keinginan kiai ini sudah melekat erat dan tidak ada yang berani melawan. Jangankan melapor ke orang tua, bercerita ke pengurus pondok atau warga sekitar tidak berani. Hal ini disebabkan karena kiai telah mencuci otak para santriwati.
Cuci otak di kalangan santri berdalih bahwa semua tindakan kiai dianggap benar, ngendikane kudu dirungokne (didengarkan) atau dawuhnya menjadi petuah yang susah dilawan.
Salah satu cara melawannya adalah keluar dari pondok dan berani bercerita kepada orang tua. Tetapi hal ini tidak dilakukan oleh para santriwati. Nyatanya kejadian kiai cabuli santriwati terbongkar luas dan viral setelah kemarahan warga di sekitar pondok pesantren Ndholo Kusumo.
Kiai Ashari (52) tampak alim luarnya, sebenarnya di tubuhnya bersemayam iblis laknatullah yang sering membisikkan kejahatan untuk memuaskan nafsu bejatnya. Bisikan iblis telah mendarah daging menguasai dirinya dan terus berupaya menyesatkan dirinya dari dalam.
Ashari mengaku sebagai "Wali Nabi dan Wali Tuhan". Kiai cabul yang kerasukan iblis berdandan ala pemuka agama, orang pasti ciut nyalinya apabila dekat dengan kiai yang sok suci dan alim ini. Baju koko putih, pakai sarung, pecis hitam, sorban selalu di pundaknya, dan pegang tasbih. Itulah wujud iblis yang berdandan ala pemuka agama.
Kiai Ashari berkedok sebagai kiai atau pengasuh ponpes dengan memanipulasi psikologis yang ekstrim untuk menundukkan korban agar patuh dan tidak melawan. Disamping itu kiai cabul tersebut memanfaatkan otoritas tertinggi di pesantren untuk mengintimidasi korban agar tidak melapor.
Kiai cabul memiliki prilaku aneh, individu tersebut memiliki tanda-tanda atau ciri-ciri "kerasukan" hawa nafsu yang tidak terkendali, seperti ketidakmampuan mengendalikan perilaku seksual dan kehilangan rasa malu.
Ciri lain dari kiai cabul biasanya merayu korban dengan dalih ingin mengobati sakit yang diderita. Modus pengobatan, ruqyah, ritual tertentu atau "penyucian" untuk mendekati korban dan melakukan tindakan tidak senonoh. Karena para korban diam. Menurut berita di media istri kiai juga tidak bisa berkutik mana kala melihat tindakan cabul suaminya. Hanya diam dan menghindar saat melihat suaminya meniduri korban. Selama prilaku bejat kiai dibiarkan, maka kejadian ini akan terus berulang dalam kurun waktu beberapa tahun.
Wahai para penegak hukum, kiai cabul Ashari harus dihukum seberat-beratnya. Karena kejadian mencabuli santriwatinya merupakan bentuk tindak pidana murni dan penyimpangan prilaku, dalam hukum di Indonesia perlu dihukum berat sebagai kasus kekerasan seksual.
Dan penulis sepakat dengan pengacara kondang Bang Hotman Paris Hutapea agar tersangka kasus pencabulan terhadap para santriwati di Pati Jawa Tengah berinisial Ashari dihukum mati. Jangan hanya 15 tahun. Sampai Ashari keluar penjara pun, para korban masih trauma berkepanjangan seumur hidupnya.
Nurul Azizah penulis Buku "Dari Perempuan NU Untuk Indonesia" .

