Oleh: Sukarlan
Merangin Newslan.id. Muktamar yang dirancang sebagai puncak permusyawaratan mulia justru berubah menjadi panggung akrobatik ego yang tak bertata krama. Saat figur yang menyandang gelar kiai, ustadz, dan haji berebut pengaruh hingga mempertontonkan aksi fisik yang kasar, yang runtuh bukan sekadar ketertiban forum—melainkan marwah seluruh umat yang selama ini menggantungkan rasa hormat kepada mereka.
Ini bukan lagi sekadar "dinamika organisasi", melainkan tragedi etika. Sungguh ironis dan memalukan ketika pihak yang saban hari mendoktrinkan adab, kesabaran, dan akhlakul karimah kepada jamaah, justru menjadi pihak pertama yang menginjak-injak nilai-nilai tersebut saat kepentingan kelompoknya terancam.
Ada tiga realitas pahit yang wajib diakui secara jujur:
Bankrutnya Keteladanan Elite: Gelar keagamaan yang mentereng terbukti serba fiktif ketika tidak diimbangi dengan kematangan emosi. Publik disuguhi kenyataan pahit bahwa jubah dan kopiah tidak otomatis menjamin kedewasaan berfikir.
Pengkhianatan Terhadap Akar Rumput: Nahdliyin dan umat Islam di tingkat tapak bekerja keras menjaga nama baik agama dan organisasi di lingkungan masing-masing. Namun, kerja keras itu dihancurkan seketika oleh keangkuhan para elite di ruang sidang.
Komersialisasi dan Politisasi Agama: Kericuhan di forum keagamaan adalah sinyal kuat bahwa nilai-nilai spiritual telah tergeser oleh keserakahan politik kekuasaan dan rebutan pengaruh pragmatis.
Umat tidak butuh permohonan maaf yang formalistis atau pembelaan diri yang dicari-cari. Yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian para elite untuk mengaca dan menghentikan sandiwara kesucian. Jika cara bermusyawarahnya saja sudah menanggalkan adab, jangan salahkan jika publik mulai membuang rasa hormat dan menganggap seruan moral dari mimbar-mimbar mereka tak lebih dari sekadar retorika kosong.


