Penulis : Nurul Azizah
Newslan-id Jakarta. Tulisan ini penulis khususkan kepada Prof Henri Subiakto yang pada tanggal 29 Maret 2026 berulang tahun, yang jelas ulang tahun ke titik-titik (ijin dulu) ke beliaunya, semoga diperbolehkan ditulis yang sebenarnya. Yang jelas usianya sekarang 64 tahun. Kalau Pegawai Negeri Sipil biasanya usia 60 tahun sudah masuk masa pensiun. Tetapi beliau seorang Profesor di Unair Surabaya. Jadi nanti pensiun kalau sudah usia 70 tahun. Ini berdasarkan UU no 14 Tahun 2005. Semoga beliau diberi kesehatan dan panjang umur.
Dulu beliau pernah bertutur ke penulis, "Saya sudah tua, tidak punya masa depan, masa depanku sudah berlalu ketika saya usia 30, 40 tahun."
Menurut penulis, beliau masih energik seperti usia 40 tahun ke atas. Masih mengajar, menguji tesis atau disertasi doktor untuk mahasiswanya. Kemudian masih aktif di berbagai podcast di kanal YouTube media online, nara sumber di telivisi swasta nasional. Mengisi berbagai acara di banyak kampus, hadir di Pengadilan atau di kantor polisi sebagai saksi ahli UU ITE dan hukum siber untuk membela orang-orang lemah. Tentunya masih banyak kegiatan positif lainnya. Disamping itu beliau masih menulis dan memberikan pencerahan lewat podcast kepada masyarakat yang dekat dengan dunia IT.
Walau sudah memasuki usia 64 tahun tetapi pengabdian hidup tidak terbatas pada ruang kantor atau ruang perkuliahan. Beliau memiliki prinsip sebagai umat Islam yaitu fil harakah barokah artinya dalam setiap gerakan atau aktivitas ada keberkahan. Walaupun menjadi PNS, beliau bisa masuk di berbagai elemen masyarakat dan terus menyuarakan kebenaran. Pengabdian beliau tidak hanya di ruang kelas, tapi di ruang podcast, ruang pembicara, penulis dan ruang lainnya yang jangkauannya lebih luas dan bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan sampai masyarakat di luar negeri. Beliau tetap mengabdi untuk negeri, baik di kampus, lapangan bisnis, di keluarga, di rumah, di masjid, di organisasi kemasyarakatan dan di tempat lainnya.
Banyak sekali yang beliau lakukan, untuk mengabdikan diri diusia yang tidak muda lagi. Beliau itu tetap semangat mengabdi untuk negeri. Jarak antara Surabaya Jakarta seperti dekat saja. Bisa saja hari ini di Surabaya besuknya sudah mengisi acara di Jakarta. Eh dikira masih di Jakarta tidak tahunya hari berikutnya sudah menguji tesis atau disertasi di Kampus baik kampus UNAIR Surabaya atau kampus lainnya.
Orang yang biasa mengabdikan dirinya ke dunia pendidikan, sosial, ke masjid atau ke masyarakat, usia tua atau usia menjelang pensiun ya biasa saja. Beda dengan orang yang tidak pernah mengabdikan diri ke masyarakat hanya sibuk di kantor, di kampus, begitu masuk usia pensiun, kegiatan di kantor berhenti. Mau ke masjid malu, berada di tengah-tengah masyarakat canggung. Tidak punya kesibukan akhirnya di rumah melihat acara televisi, scrol HP, bisa jadi nantinya akan meninggal di depan televisi. Orang yang seperti ini adalah orang yang 'mati kreativitas' di tengah-tengah keramaian.





