SAROLANGUN – MERANGIN – BUNGO – TEBO NEWSLAN.ID — Kalimat itu selalu keluar seperti kaset rusak setiap kali aparat menggelar razia setengah hati: "Kami kerja di sini cuma untuk makan, Pak. Kalau tidak melimbang, anak istri kami mau dikasih makan apa?"
Sebuah tameng humanis yang begitu kokoh, sengaja dirawat, dan dijadikan "topeng" paling sakti. Di wilayah barat Provinsi Jambi—mulai dari aliran sungai di Sarolangun, hamparan lubang jarum di Merangin, hingga kerusakan masif di Bungo dan Tebo—Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) bukan lagi soal urusan perut rakyat kecil. Ini adalah industri haram bernilai miliaran rupiah yang tamak, merusak, dan dipelihara secara sistemik.
Belasan tahun narasi "demi sesuap nasi" ini laku dijual ke publik. Namun, jika kita berani mengoyak kain kafan kemunafikan ini, di balik punggung para pekerja yang berlumur lumpur dan rawan tertimbun longsor, ada bayang-bayang para cukong kelas kakap dan oknum pejabat "Ring 1" yang tersenyum lebar menikmati aliran uang haram tanpa pernah menyentuh lumpur sekalipun.
Mari kita bedah secara rasional. Mengoperasikan satu unit dompeng (mesin sedot emas) atau alat berat jenis ekskavator membutuhkan modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Pekerja kasar di lapangan tidak akan pernah punya uang sebanyak itu.
Para pekerja lokal sejatinya hanyalah "bemper" hukum. Mereka dibayar murah untuk merusak tanah kelahiran mereka sendiri, sementara keuntungan terbesar mengalir mulus ke kantong pemodal (cukong) yang duduk manis di rumah mewah mereka. Alibi "hanya untuk bertahan hidup" sengaja disuntikkan ke kepala para pekerja agar ketika ada penindakan, masyarakat bawah yang akan maju paling depan melawan negara dengan tameng kelaparan.
Cukong-cukong ini tahu betul cara memanfaatkan psikologi massa dan kelemahan aparat penegak hukum yang kerap mendadak "pudar nyali" jika dihadapkan pada isu urusan perut rakyat.
Pertanyaan besarnya: Sampai kapan drama kolosal ini akan terus diputar?
Gubernur Jambi dan para Bupati di empat kabupaten terdampak—Sarolangun, Merangin, Bungo, dan Tebo—seolah-olah menjelma menjadi penonton bioskop yang budiman. Mereka duduk di kursi empuk, menyaksikan kerusakan lingkungan di depan mata, membaca berita pekerja PETI yang tewas tertimbun secara berkala, lalu mengeluarkan komat-kamit klise: "Kita akan koordinasikan," atau "Kita cari solusi jangka panjang."
Edukasi? Nol besar. Pengalihan mata pencaharian ke sektor pertanian atau perkebunan yang legal hanya menjadi komoditas jualan politik saat kampanye pilkada. Nyatanya, pasca-pemilu, wilayah aliran sungai terus dibombardir merkuri, meracuni generasi masa depan Jambi, sementara para kepala daerah sibuk dengan pencitraan birokrasi.
Sikap pasif pemerintah daerah ini bukan lagi sekadar ketidakmampuan (incompetence), melainkan sudah mengarah pada pembiaran yang disengaja (willful blindness).
Bukan rahasia lagi di warung-warung kopi hingga ke pelosok desa, rumor mengenai keterlibatan oknum pejabat, aparat, hingga lingkaran dalam kekuasaan (Ring 1) sudah menjadi konsumsi sehari-hari.
Mengapa PETI begitu digdaya? Mengapa ekskavator bisa melenggang bebas masuk ke kawasan hutan lindung tanpa tersentuh? Mengapa pasokan BBM bersubsidi untuk mesin-mesin PETI selalu lancar jaya di tengah kelangkaan bagi rakyat biasa?
Jawabannya sederhana: Ada setoran yang mengalir ke atas.
PETI di Jambi telah bertransformasi menjadi lingkaran setan korporasi hitam yang melibatkan lintas sektor. Hukum di wilayah ini tampak perkasa jika berhadapan dengan pencuri ayam, namun mendadak ompong dan rabun dekat ketika berhadapan dengan jaringan pemodal emas ilegal yang memiliki bekingan kuat di lingkaran elit penguasa. Keberadaan oknum Ring 1 sebagai penikmat saham atau pelindung utama (backing) adalah alasan paling logis mengapa aktivitas ini abadi.
Jika pemerintah daerah dan aparat penegak hukum terus memilih menjadi penonton, maka bersiaplah menyambut kehancuran ekologis total. Sungai Batanghari dan anak-anak sungainya kini sudah sekarat. Merkuri merayap pelan masuk ke dalam rantai makanan, siap melahirkan generasi cacat di masa depan.
Rakyat Jambi harus sadar bahwa mereka sedang ditipu mentah-mentah. Alasan "ekonomi" yang digelorakan para cukong adalah racun berbalut madu. Bumi dipijak hancur, air diminum beracun, pekerja mati tertimbun, sementara para tikus berdasi di Ring 1 dan cukong penikmat utama tetap melenggang bebas, mencuci uang mereka, dan berpura-pura menjadi warga negara yang saleh.
Sampai kapan penonton di kursi kekuasaan itu mau beranjak dan mulai bertindak? Ataukah mereka baru akan bergerak saat Jambi sudah benar-benar tenggelam dalam lumpur raksa? (Tim Investigasi)



