MERANGIN NEWSLAN.ID– Hati masyarakat Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin, saat ini sedang berkecamuk. Di satu sisi, mereka bersiap menyambut momentum sakral sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Kabupaten Merangin,Tuan Rumah MTQH ke 52 di Desa Bukit Batu Kecamatan Sungai Manau. Namun di sisi lain, deru mesin dari aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang mengepung lokasi acara terus menjadi bayang-bayang hitam yang mencoreng marwah daerah. Keresahan ini akhirnya tumpah menjadi jeritan di berbagai platform media sosial.
Warga secara terbuka melayangkan imbauan moral yang menohok hati nurani. Mereka meminta para pelaku PETI—khususnya di area Sungai Manau dan Pangkalan Jambu—untuk menurunkan ego dan menghentikan total aktivitas penambangan, setidaknya sebelum dan sesudah perhelatan MTQ berlangsung.
Bagi masyarakat setempat, isu ini bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan harga diri dan adat. Kehadiran para petinggi daerah, termasuk Pj Bupati Merangin dan Sekda, dinilai menjadi taruhan nama baik Kecamatan Pangkalan Jambu.
"Ado jugo raso malu dengan pak bupati dan pak Sekda serta pejabat lainnya... Ado jugo raso empati dan batimbang raso (bertenggang rasa) dalam hidup," tulis salah satu seruan warga yang viral di media sosial.
Ungkapan batimbang raso menjadi pengingat keras bahwa di atas keuntungan materi, ada norma adat Melayu Jambi dan kesucian syiar agama yang harus dihormati. Menyelenggarakan kompetisi lantunan ayat suci Al-Qur'an di tengah gemuruh mesin dompeng dan kerusakan alam yang kasat mata dinilai sebagai kontradiksi moral yang sangat berat.
Menanggapi polemik ini, publik kini menyoroti bagaimana sikap Pemerintah Kabupaten Merangin dan aparat penegak hukum. Momen MTQ ini seharusnya tidak hanya menjadi acara seremonial tahunan, tetapi juga menjadi momentum krusial bagi pemerintah untuk menunjukkan taji.
Tantangan terbesar saat ini adalah:
Pendekatan Persuasif Tokoh Adat: Mampukah lembaga adat Pangkalan Jambu mengetuk pintu hati para pelaku tambang untuk tunduk pada kepentingan umum?
Ketegasan Aparat Penegak Hukum: Apakah penertiban hanya akan hangat-hangat kuku selama acara berlangsung, atau mampu melahirkan solusi jangka panjang?
Masyarakat Pangkalan Jambu kini hanya bisa berharap agar seruan moral ini didengar. Suksesnya MTQ Merangin tidak akan diukur dari megahnya panggung utama, melainkan dari kemampuan daerah tersebut menjaga kesucian acara dari kepungan aktivitas ilegal yang merusak bumi mereka sendiri.
(Tim Redaksi)



