Penulis : Nurul Azizah
Newslan.id Dapat ucapan "Bu Selamat Hari Kartini Juga Ya" dari sahabat rasanya senang sekali. Bagi penulis maknanya terlalu dalam. Karena sahabat tersebut tahu betul perjuangan aku sebagai perempuan yang terus bergerak dan mengisi waktu dengan berbagai aktivitas rutin dan aktivitas lainnya yang banyak menyita waktu, tenaga dan pikiran.
Aktivitas rutin sebagai ibu rumah tangga yang dari pagi hingga malam tetap mengerjakan pekerjaan rumah. Selain itu juga memiliki profesi sebagai tenaga pendidik baik di tingkat SMA maupun perguruan tinggi. Aktivitas lainnya ikut kegiatan sosial dan mengisi pengajian di majelis taklim ibu-ibu dan waktu senggangnya digunakan membaca dan menulis.
Terus menyuarakan kebenaran dan unek-unek yang sering berseliweran dalam otaknya. Ide-ide kreatif terus bermunculan, apabila tidak segera ditulis maka ide tersebut akan tertumpuk dengan ide lain yang lebih fresh.
Itulah perjuangan seorang perempuan yang secara tidak langsung diilhami oleh sosok perempuan hebat dan tangguh dari Jepara Jawa Tengah yaitu Raden Ajeng Kartini.
RA Kartini telah dikenal dunia sebagai sosok perempuan yang memiliki keistimewaan di antaranya: memperjuangkan emansipasi wanita, mendirikan sekolah perempuan, pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Memiliki keberanian untuk menyuarakan pendapat. Memiliki semangat pantang menyerah, memiliki jiwa religius dan toleransi. Memiliki kebiasaan membaca buku, surat kabar, majalah dan mampu menulis. Dari kumpulan tulisan RA Kartini memiliki kemampuan mengubah cara berpikir masyarakat Belanda terhadap kaum perempuan Jawa. Dengan adanya RA Kartini orang Belanda mulai menghormati hak-hak asasi perempuan Jawa. Perempuan Jawa waktu itu memiliki pendidikan, kebebasan berpikir, dan orang Belanda kagum dengan usaha RA Kartini bahwa dengan pendidikan, perempuan mampu berkiprah lebih maju di dalam masyarakat sekitar dan dunia kerja.
Perjuangan RA Kartini tidak mudah, beliau menghadapi berbagai tantangan, termasuk budaya patriarki yang kuat, terbatasnya akses pendidikan bagi perempuan dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Namun Kartini tetap gigih dan berjuang dengan berbagai cara, seperti melalui surat-surat dan buku "Habislah Gelap Terbitlah Terang," serta mendirikan sekolah untuk perempuan.
Budaya patriarki adalah budaya pada masa itu yang memandang perempuan sebagai makhluk yang lemah dan hanya diperuntukkan untuk menjadi ibu rumah tangga.
Ucapan selamat hari Kartini bagi penulis mengingatkan pada tantangan para Kartini modern abad millenial ini, masih saja ada kesenjangan gender, beban ganda seorang perempuan, tuntutan media sosial, perubahan cara pandang dan budaya patriarki masih saja diperlakukan di beberapa daerah.
Masih ada kesenjangan gaji antara laki-laki dan perempuan terutama di sektor swasta dan kurangnya perempuan dalam kepemimpinan.
Menjadi perempuan dalam berbagai hal juga tidak mudah. Terutama dalam menyampaikan pendapat di media sosial. Banyak komen yang menyudutkan perempuan yang memang sengaja untuk menjatuhkan mental. Kemerdekaan berpendapat terkadang terhalang oleh 'nyinyiran' baik dari laki-laki maupun dari perempuan jadi-jadian, yaitu perempuan yang tidak suka dengan sesama perempuan yang lebih maju.
Abaikan semua nyinyiran, menjadi seorang Kartini tidak boleh tumbang karena badai menghalang. Tetap mengedukasi masyarakat lewat karya nyata, lewat tulisan dan lewat media sosial yang dipunya. Suarakan terus, jangan pedulikan suara sumbang. Itulah yang penulis lakukan.
Seorang penulis yang terinspirasi dari perjuangan ibu RA Kartini. Tulisan ini saya tujukan kepada para sahabat yang telah dengan tulus mengucapkan hari Kartini 21 April. Inilah aku, perempuan sederhana yang mau berbagi dalam suka dan duka. Dalam berbagai kesempatan terus menulis apa saja yang disukai. Inilah aku yang terus berlomba walau tidak ada pertandingan.
Aku mungkin tak selalu menang, tapi aku tak pernah berhenti melangkah.





