JAKARTA, Newslan.id – Kabar duka menyelimuti panggung politik dan dunia usaha nasional. Mantan Menteri Perdagangan sekaligus anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, H. Rachmat Gobel, dilaporkan meninggal dunia pada Jumat (10/7/2026) dini hari pukul 03.20 WIB di Jakarta.
Kepergian tokoh asal Gorontalo di usia 63 tahun ini menyisakan duka mendalam bagi pihak keluarga, kolega, dan internal Partai NasDem yang merasa kehilangan salah satu kader terbaiknya. Rencananya, jenazah almarhum akan diterbangkan dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Gorontalo.
Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di jagat media sosial. Pantauan redaksi di beberapa akun media informasi lokal yang mengabarkan berita duka ini—salah satunya di akun Pati News—kolom komentar justru dipenuhi oleh reaksi yang mengejutkan dari warganet.
Alih-alih dipenuhi ucapan bela sungkawa yang khidmat, respons masyarakat justru diwarnai oleh sinisme, kritik tajam, hingga satire yang mencerminkan kejengkelan mendalam terhadap institusi tempat almarhum bernaung.
Beberapa netizen bahkan mengaitkan kematian anggota dewan ini dengan kondisi perekonomian negara.
"Ya Allah.. andaikan tiap hari seperti ini, mungkin dalam waktu setahun Indonesia bisa menjadi negara makmur dan bisa mensejahterakan rakyatnya. Baru satu anggota DPR aja saya sebagai rakyat Indonesia sangat bersyukur banget karena dengan begitu bisa mengurangi angka kerugian negara," tulis salah satu warganet dengan nada satire yang cukup telak.
Fenomena ini mengundang keheranan dari pengguna media sosial lainnya yang menyoroti bagaimana jarangnya sebuah berita kematian tokoh publik direspons tanpa rasa duka oleh masyarakat luas.
"Baru kali ini, ada berita duka... netizen gak ada yang berduka...🤣🤣🤣," timpal akun lainnya sembari menyematkan emoji tertawa.
Sentimen negatif terhadap para wakil rakyat tampaknya sudah mencapai titik kulminasi. Kritik yang dilayangkan tidak lagi tertahan, bahkan sebagian besar komentar bernada serupa hingga membuat netizen lain merasa aspirasi mereka sudah terwakili sepenuhnya.
"Sudah kehabisan kata-kata, sudah gak kebagian mau komen apa, karena semua sudah diucapkan. Yang utama adalah, 'kapan ketuanya menyusul' sudah terwakilkan, sudah full kumplit plit plit," tulis komentar teratas yang mendapat banyak respons dari warganet lainnya.
Fenomena kolom komentar ini menjadi cerminan nyata dari jurang pemisah yang lebar antara persepsi elit politik dan realitas kejenuhan masyarakat bawah terhadap performa para pejabat di Senayan. (Red)



