JAMBI NEWSLAN.ID — Alam Jambi hari ini menyajikan pemandangan yang menyayat hati. Di atas, langit mengepulkan asap pekat yang merenggut hak warga atas udara bersih. Di bawah, aliran sungai-sungai utama tak lagi jernih, melainkan keruh belumpur akibat penambangan liar dan perusakan lingkungan yang kian masif. Slogan "Lengkap Sudah Deritamu Wahai Rakyat Jambi" bukan sekadar kalimat puitis, melainkan ratapan riil masyarakat yang saban hari menghirup polusi dan menyaksikan kehancuran ruang hidupnya.
Asap yang mengepul di udara tidak hanya merusak kesehatan fisik—terutama anak-anak dan lansia yang rentan terserang ISPA—tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi lokal. Pada saat yang sama, sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan, mata air pertanian, serta sarana transportasi, kini tercemar berat. Lumpur dan limbah yang dibawa arus sungai adalah bukti nyata ketidakberdayaan tata kelola lingkungan di daerah ini.
Kondisi "Langit Berasap, Sungai Belumpur" ini mencerminkan pembiaran yang telah berlangsung terlalu lama. Penegakan hukum terhadap oknum pembakar hutan serta pelaku Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) sering kali gagah di atas kertas, tetapi tumpul di lapangan. Selama pemodal besar dan oknum penikmat hasil perusakan lingkungan belum disentuh secara tegas, rakyat kecillah yang terus menanggung akibatnya.
Redaksi Newslan.id menegaskan bahwa isu lingkungan di Jambi telah mencapai taraf darurat. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan instansi terkait tidak boleh lagi berlindung di balik alasan klasik atau sekadar melempar tanggung jawab. Langkah-langkah konkret, mulai dari penindakan hukum tanpa tebang pilih hingga pemulihan ekosistem yang rusak, harus segera direalisasikan.
Rakyat Jambi tidak membutuhkan janji manis atau penanganan parsial yang hanya hangat-hangat tahi ayam. Yang dibutuhkan hari ini adalah komitmen nyata untuk membersihkan langit dari asap dan mengembalikan kejernihan air sungai. Jangan biarkan masyarakat terus bertanya-tanya: sampai kapan derita ini harus dipikul sendiri?
Redaksi

