Penulis: Nurul Azizah
Semarang Newslan.id. Seumur-umur baru kali ini ada calon manajer koperasi desa/ kelurahan ikut latihan dasar militer di bawah Kemenhan RI dan panitia seleksi nasional program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Oh ini program unggulan Prabowo Gibran, selain Danantara, sekolah rakyat, MBG juga KDMP (Koperasi Desa Merah Putih). Latihan dasar kemiliteran (latsarmil) menjadi syarat utama sebagai manajer KDMP. Bahkan dari BKN menjelaskan manajer kopdes akan didenda Rp 100 juta jika mundur. Dari alasan inilah banyak calon manajer KDMP yang dinyatakan lulus seleksi administrasi tidak berani mundur dan ikut latsarmil dan Komponen Cadangan (Komcad) Kementerian Pertahanan selama 45 hari di berbagai satuan pendidikan militer (Satdik).
Periode pelatihan dimulai sejak pertengahan Juni 2026, yang terdiri 30 hari pelatihan kedisiplinan serta bela negara, dan 15 hari dilanjutkan dengan pelatihan manajerial.
Sedangkan lokasi tersebar di 67 satuan pendidikan di seluruh Indonesia, termasuk lokasi di Brigif 1 Marinir Cilandak (Jakarta Selatan) dan Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman (Balikpapan). Sedangkan target peserta diikuti sekitar 30.000 calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.
Mereka yang diterima sebagai calon manajer KDMP diharapkan punya sikap disiplin, mental yang tangguh, nasionalisme dan cinta tanah air. Kalau untuk menjadi manajer Kopdes harus ikut latihan dasar militer ini akan menguras dana APBN, karena semua pengeluaran atas kegiatan latsarmil memakai uang rakyat dan rakyat Indonesia tidak paham akan hal ini, apakah ini tidak pemborosan.
Sepengetahuan penulis begitu diterima sebagai calon manajer kopdes mereka langsung persiapan menuju tempat latihan Dasar Militer selama 45 hari, menurut cerita selama latihan tidak diperkenankan bermain HP dan komputer.
Belum genap 30 hari latihan dasar militer sudah ada korban meninggal dunia. Sampai tulisan ini dibuat sudah ada 5 calon manajer Kopdes Merah Putih yang meninggal dunia. Kementrian Pertahanan mengungkapkan, hingga Sabtu (27/6/2026) sudah ada lima calon manajer KDMP yang meninggal dunia saat menjalani latihan dasar militer (latsarmil).
"Atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Panitia Seleksi Nasional dan seluruh penyelenggara program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program KDMP KNMP 2026 yang sedang mengikuti latihan bela negara dan manajerial," kata Kepala BB PSDM Pertahanan Kemhan BPSDM Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia di kantor Kemenhan (27/6).
Ini nyawa yang hilang, tetapi pemerintah seperti biasa saja, program KDMP, KNMP belum berjalan sudah memakan korban nyawa. Coba korban yang meninggal anaknya jajaran Kemenhan atau panitia SPPI pasti ceritanya lain.
Penulis mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Yonanda Muhammad Taufik, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dan Nola Dya Sari.
Perlu dievaluasi dan dihentikan sementara untuk latihan dasar militernya. Karena sudah memakan 5 korban meninggal dunia. Anggota DPR DPRD harus turun tangan untuk mewakili keluarga korban atas meninggalnya 5 calon manajer KDMP.
Mereka adalah lulusan sarjana yang rata-rata ingin mencari pekerjaan karena minimnya lowongan kerja. Begitu pemerintah membuka lowongan untuk menjadi manajer KDMP maka mereka berebut dengan yang lain untuk mendapatkan posisi manajer.
Itu jelas calon manajer Koperasi Desa, mengapa dilatih kemampuan untuk pertahanan negara (perang)? Manajer menurut hemat penulis ya bagaimana bisa mengelola barang dan menjualnya serta kemampuan mengelola keuangan koperasi.
Sebagai guru ekonomi akuntansi setingkat SMA pernah menjadi dosen untuk mata kuliah ekonomi mikro makro dan akuntansi, penulis sedikit paham tentang pelatihan untuk menjadi manajer koperasi.
Seorang manajer KDMP harus paham betul tentang perkoperasian dari rekrutmen anggota, permodalan, bidang usaha dan Rapat Anggota Tahunan (RAT), pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU), laporan keuangan koperasi serta menghitung pajak yang akan disetor ke kas negara. Banyak materi dan praktek perkoperasian tentunya.
Seorang manajer juga paham tentang manajemen keuangan dan akuntansi. Bagaimana mengenal bukti transaksi baik transaksi intern dan ekstern. Membuat jurnal baik jurnal umum maupun jurnal khusus. Kemudian membuat jurnal penyesuaian, membuat neraca lajur, membuat laporan keuangan baik laporan rugi laba, perubahan modal dan neraca.
Seorang manajer Kopdes juga mampu mengelola uang kas, baik kas yang ada di koperasi (kas kecil) dan kas yang ada di bank (kas besar). Mampu dan paham tentang aliran arus kas, baik kas masuk dan kas keluar. Itu semua sebagai bentuk pertanggungjawaban keuangan koperasi.
Belum lagi mengelola stok barang dan inventaris, kalau koperasi desa tersebut bergerak dibidang penjualan (toko). Kalau bergerak di bidang jasa dan produksi lain lagi perlakuan manajemennya.
Kalau koperasi desa tersebut bergerak pada penjualan barang kebutuhan sehari-hari masyarakat desa, seorang manajer harus mampu menyediakan barang, membangun hubungan kemitraan dengan para produsen dan supplier. Kemudian pencegahan kehilangan barang, penataan produk, pelayanannya kepada pelanggan dan lain sebagainya tentang produk dan layanan kepada pelanggan.
Kalau koperasi bergerak dibidang simpan pinjam dan serba usaha lain lagi penanganannya. Yang jelas seorang calon manajer koperasi harus paham betul seluk beluk perekonomian, perkoperasian, enterpreneurship dan akuntansi.
Jangan sampai seorang manajer kopdes hanya dilatih perang tapi tidak paham tentang koperasi, ekonomi, bisnis, kewirausahaan dan keuangan. Manajer koperasi harus memahami prinsip perkoperasian dan akuntansi agar dapat mengelola operasional koperasi secara professional, menjaga kepercayaan anggota melalui transparansi keuangan, mematuhi regulasi dan mampu mengambil keputusan strategis yang tepat berdasarkan data. Bukan pegang senjata untuk perang.
Nurul Azizah penulis buku "Dari Perempuan NU Untuk Indonesia"



