MERANGIN NEWSLAN. ID ā Kekecewaan mendalam atas lambatnya pembangunan infrastruktur mendasar memicu gelombang protes keras dari masyarakat di perbatasan Kecamatan Margo Tabir dan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi. Warga secara terang-terangan menolak program-program seremonial maupun janji kelembagaan lokal, dan menuntut satu hal nyata: akses jalan yang layak.
Hal tersebut ditegaskan dengan nada geram dan jengkel oleh Wahyudi, salah seorang warga Desa Mekar Jaya, Kecamatan Tabir Selatan. Dengan suara lantang di lokasi proyek, ia menyuarakan isi hati ratusan warga yang selama ini terisolasi akibat rusaknya jalur transportasi utama.
"Kami warga tidak butuh MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Kopdes (Koperasi Desa)! Yang kami butuhkan jalan yang mulus!" cetus Wahyudi dengan raut wajah penuh kejengkelan, Senin (13/7/2026).
Pernyataan menohok itu dilontarkan Wahyudi saat dirinya bersama sejumlah warga ikut mengawasi langsung proses pengerasan jalan sepanjang 7 kilometer yang menghubungkan Desa Bungo Tanjung (Kecamatan Margo Tabir) menuju Desa Mekar Jaya (Kecamatan Tabir Selatan).
Berikut adalah investigasi mendalam tim Newslan.id mengenai potret riil di lapangan terkait konflik prioritas pembangunan ini.
Berdasarkan pantauan tim Newslan.id di lokasi, jalan sepanjang 7 KM ini merupakan urat nadi perekonomian bagi warga di dua kecamatan tersebut. Di latar belakang lokasi pengerjaan, terlihat alat berat (stoomwaltz/asphalt roller) tengah beroperasi di atas jalan tanah yang sedang diratakan. Jalur ini dilaporkan sering kali menjadi kubangan lumpur saat musim hujan dan badai debu saat kemarau, menghambat distribusi hasil bumi serta akses kesehatan warga.
Kekesalan Wahyudi dan warga sekitar dinilai sangat mendasar. Ketika pemerintah gencar mengampanyekan program-program penguatan ekonomi seperti Koperasi Desa (Kopdes) maupun program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), masyarakat di akar rumput justru merasa program tersebut tidak akan menyentuh akar masalah jika mobilitas mereka lumpuh.
Bagi mereka, bagaimana mungkin koperasi bisa berjalan atau kesejahteraan masyarakat terjamin jika untuk membawa hasil panen keluar desa saja ongkos angkutnya membengkak dua kali lipat akibat jalan yang rusak parah?
Kehadiran warga seperti Wahyudi di lokasi proyek pengerasan jalan pada Senin kemarin bukan tanpa alasan. Karena pengerasan jalan kali ini adalah dana gotong royong masyarakat dan tengkulak sawit dengan dapat bantuan alat-alat dari PT. Sari Adya Loka (SAL) 1.
Pembangunan pengerasanakses jalan yang mulus kini menjadi harga mati bagi warga Tabir Selatan dan Margo Tabir. Sentilan keras warga terhadap program MBG dan Kopdes ini menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan di Kabupaten Merangin untuk lebih jeli dalam menentukan skala prioritas pembangunan yang berpihak pada kebutuhan riil masyarakat desa.
(Tim Investigasi / Newslan.id)



