MERANGIN, Newslan.id – Jagat media sosial di Provinsi Jambi, khususnya Kabupaten Merangin, dihebohkan oleh video amatir berdurasi 1 menit 54 detik yang memperlihatkan runtuhnya wibawa penegak hukum di hadapan massa pelaku Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Sungguh ironis, tim sekelas Bareskrim Mabes Polri yang turun jauh-jauh dari Jakarta, justru "dikencingi" dan dipaksa angkat kaki oleh kepungan warga di Desa Tanjung Putus, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin.
Peristiwa memalukan yang terjadi pada Kamis sore tersebut memperlihatkan bagaimana sejumlah personel kepolisian bersenjata laras panjang tak berkutik saat diteriaki kata-kata kasar. "Balek! Balek! Balek!" (Pulang! Pulang! Pulang!), sahut massa dengan nada mengancam. Alhasil, aparat berseragam lengkap itu terpaksa gigit jari, balik kanan, dan mundur teratur meninggalkan lokasi tambang ilegal yang masih menyisakan ekskavator terparkir gagah di area galian.
Kejadian ini memancing reaksi sinis dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya Ujang, seorang warga yang mengaku hanya bisa tertawa getir melihat video yang viral tersebut.
"Jujur, saya merasa geli dan lucu melihatnya. Ini tim Mabes Polri lho, Bareskrim pusat! Kok bisa-bisanya diusir dan ciut nyalinya sama pelaku tambang ilegal? Ke mana wibawa korps Bhayangkara? Kalau hukum bisa ditekuk dengan cara bawa massa banyak, besok-besok semua penjahat tinggal kumpulin orang saja biar gak ditangkap," ucap Ujang dengan nada menyindir keras.
Ujang juga mempertanyakan sejauh mana koordinasi antara tim pusat dengan aparat penegak hukum lokal. "Apakah tim Bareskrim ini tidak koordinasi dengan Polres Merangin? Atau koordinasinya cuma di atas kertas tapi melempem di lapangan? Ini preseden buruk buat penegakan hukum," tambahnya.
Menanggapi gejolak di medsos dan pudarnya citra kepolisian akibat insiden ini, Kapolres Merangin, AKBP Kiki Firmansyah Efendi, akhirnya buka suara. Ia membenarkan adanya penghadangan dari sekelompok masyarakat terhadap tim gabungan Bareskrim Polri dan jajaran Polres Merangin.
AKBP Kiki membantah jika disebut tidak ada koordinasi. Menurutnya, sebelum operasi diluncurkan, tim Bareskrim sudah berkoordinasi dengan Polres Merangin untuk meminta perbantuan personel. Namun, kalkulasi di lapangan rupanya meleset.
"Namun, setelah di lapangan melihat situasi bahwa jumlah masyarakat yang cukup banyak, dan sedikit melakukan perlawanan, sehingga tim gabungan kembali untuk melakukan konsolidasi," ujar AKBP Kiki membela diri.
Pernyataan senada juga dikeluarkan oleh Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Erlan Munaji, yang mengklaim situasi di lapangan tetap kondusif meski aparat terpaksa mundur teratur digertak massa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kabupaten Merangin, khususnya Bupati, tampaknya memilih jurus "tiarap" dan bungkam seribu bahasa terkait insiden yang mencoreng wajah daerah ini. Publik menilai, pembiaran aktivitas PETI di Tabir Barat yang sudah berlangsung bertahun-tahun adalah bukti nyata lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menegakkan regulasi.
Mundurnya tim Bareskrim Polri dari lokasi PETi di Tabir Barat ini menjadi catatan hitam. Jika sekelas Mabes Polri saja bisa diusir dengan modal "gertakan massa", maka jangan salahkan jika masyarakat menilai bahwa hukum di Kabupaten Merangin memang sengaja dibuat mandul di bawah ketiak para mafia tambang emas ilegal.
Sampai kapan drama konsolidasi ini selesai, ataukah aparat memang sudah menyerah kalah? Publik menunggu taring asli kepolisian, bukan sekadar cerita balik kanan. (Red)



