SOLO, NEWSIAN.ID ā Isak tangis dan rasa haru mewarnai aksi damai yang digelar oleh seratusan peternak ayam broiler dan petelur se-Soloraya di Bundaran Gladag, Kota Solo, Jawa Tengah, pada Selasa (7/7/2026) pagi.
Para peternak yang datang jauh-jauh dari Boyolali, Klaten, Karanganyar, hingga Sukoharjo ini berkumpul membawa satu jeritan yang sama: usaha mereka sedang di ujung tanduk kematian.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana yang begitu menyayat hati. Sambil membentangkan spanduk tuntutan, beberapa peternak tidak mampu membendung air mata saat menyuarakan kondisi riil di lapangan. Mereka mengaku sudah tidak sanggup lagi menahan hantaman kerugian akibat harga jual ayam dan telur yang anjlok drastis, sementara harga pakan justru terus meroket tanpa kendali.
"Kami ini bukan mau kaya, kami hanya ingin bertahan hidup. Modal kami habis, utang menumpuk, tapi hasil jerih payah kami dihargai sangat murah di bawah biaya produksi," ujar salah satu orator dengan suara bergetar yang langsung disambut pelukan haru dari sesama peternak.
Aksi yang berlangsung tertib namun sarat akan kesedihan ini menjadi simbol keputusasaan sekaligus harapan terakhir para peternak mandiri. Mereka berharap pemerintah pusat maupun daerah segera turun tangan melakukan intervensi pasar, menstabilkan harga pakan, dan menyelamatkan nasib ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor peternakan rakyat.
Hingga aksi berakhir, para peserta saling menguatkan satu sama lain dalam suasana penuh keharuan, berkomitmen untuk terus mengawal nasib mereka demi dapur yang tetap mengepul di rumah.
Redaksi



