Semarang Newslan.id ā Sebuah unggahan di media sosial yang membahas dugaan modus penjualan springbed keliling kembali menarik perhatian publik. Dalam postingan tersebut, seorang warga mengaku mengalami kerugian setelah membeli springbed yang ternyata tidak sesuai dengan kualitas yang diperlihatkan saat transaksi.
Korban menceritakan, peristiwa itu terjadi sekitar dua tahun lalu ketika dirinya sedang berada di rumah bersama ayah dan anaknya yang masih bayi. Saat itu, tiga orang penjual datang menawarkan springbed dengan alasan merupakan barang bonus dari pabrik sehingga dijual dengan harga jauh lebih murah, yakni Rp900 ribu.
Meski sempat menolak, ayah korban akhirnya tertarik setelah penjual terus membujuk dan harga berhasil ditawar hingga Rp450 ribu. Sebelum membeli, korban mengaku sempat memeriksa beberapa springbed yang berada di atas mobil bak terbuka dan menilai kualitasnya cukup baik.
Setelah pembayaran dilakukan, penjual menurunkan springbed yang akan dibeli, kemudian membalurinya dengan sampo dan meminta agar plastik pembungkus tidak dibuka selama sekitar 10 menit dengan alasan menunggu kering. Pada saat yang sama, penjual juga mengalihkan perhatian korban dan ayahnya dengan berbagai percakapan.
Namun, setelah penjual pergi dan plastik dibuka, korban mengaku terkejut karena springbed yang diterima berbeda dengan yang sebelumnya diperlihatkan. Menurut pengakuannya, bagian tengah kasur kosong dan hanya menggunakan rangka kayu yang dilapisi kain sehingga kualitasnya jauh dari harapan.
Korban menduga terjadi pergantian barang saat proses transaksi berlangsung. Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan belum ada keterangan dari pihak yang disebut dalam unggahan.
Unggahan tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati saat membeli barang dari penjual keliling. Konsumen disarankan memeriksa barang secara menyeluruh, memastikan kesesuaian produk sebelum pembayaran, meminta identitas penjual, serta lebih memilih bertransaksi di toko resmi yang memberikan garansi dan perlindungan konsumen.
Perlu diingat, kisah ini merupakan pengalaman pribadi yang dibagikan melalui media sosial dan belum dapat diverifikasi secara independen.(red)



