by Ali Syarief January 20, 2026
Newslan-id Jakarta. Hampir semua orang sepakat: program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah realisasi dari right to food. Tidak ada yang hari ini berdiri lantang mengatakan MBG melanggar hak asasi manusia. Bahkan banyak yang memujinya sebagai kebijakan populis yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat. Lalu di mana masalahnya?
Pertanyaannya justru lebih mendasar: mengapa harus MBG? Mengapa bukan pendidikan gratis untuk seluruh warga negara?
Jika benar negara ingin memenuhi kepentingan umum, sebagaimana kerap disampaikan oleh para pejabat dan pendukung kebijakan ini, maka pendidikan adalah kepentingan umum paling hakiki.
Pendidikan bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi hak konstitusional yang menentukan masa depan bangsa. Anehnya, anggaran besar dikucurkan untuk MBG, sementara mimpi pendidikan gratis hingga perguruan tinggi tetap dibiarkan menjadi utopia.
Hari ini, ribuan orang tua mengeluh tidak mampu membayar biaya sekolah anaknya.
Mahasiswa terseok menanggung UKT yang terus naik. Tinggal cek data: putus sekolah masih terjadi, akses pendidikan tinggi masih timpang, dan fasilitas pendidikan di banyak daerah jauh dari layak.

Namun alih-alih memperbaiki ini, negara memilih memindahkan anggaran ke program makan gratis. Akibatnya, fasilitas pendidikan berkurang. Bahkan sektor kesehatan ikut terdampak karena ruang fiskal menyempit.
Di sinilah persoalan hak asasi manusia muncul. Hak atas pangan memang penting. Tetapi hak atas pendidikan adalah hak yang membebaskan manusia dari kemiskinan struktural.
Memberi makan tanpa memberi jalan untuk berpikir dan berkembang hanya akan melahirkan generasi kenyang — tetapi tetap tergantung.
Saya menyebut ini sebagai persoalan progresif religion dalam makna konstitusional. Progresif berarti bergerak ke depan, membawa manusia menuju kemajuan. Dan kata “kemajuan” itu nyata tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28I Ayat (4). Negara bertanggung jawab untuk memajukan, bukan sekadar memelihara.
Maka pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi menentukan arah bangsa:
Apakah negara ingin menciptakan warga yang hanya diberi makan, atau warga yang diberi kesempatan untuk tumbuh?
Karena bangsa besar tidak dibangun oleh perut kenyang semata, tetapi oleh pikiran yang tercerahkan.
Dan hari ini, justru pikiran itulah yang dibiarkan lapar.














