Tanah di Pulau Karimunjawa Dijual Rp300-Rp500 Ribu Per Meter.

.
Jateng – Semarang – Newslan.id – Kepulauan Karimunjawa yang berada di Kabupaten Jepara , selain mahsyur sebagai surganya pecinta bawah laut, juga menjadi target investasi yang punya prospek cerah. Setidaknya hal itu tergambarkan dari situasi yang terjadi di Karimunjawa belakangan ini.

Camat Karimunjawa Eko Udiyono mengatakan, Karimunjawa yang terbagi menjadi empat desa saat ini jumlah penduduknya sebanyak 10.112 orang. Dengan jumlah warga sebanyak itu, rata-rata memiliki tanah warisan di berbagai titik gugusan pulau.

“Dan populasinya masih didominasi oleh masyarakat lokal. Hanya saja karena tergiur dengan perkembangan pariwisata yang pesat, kurang lebih empat tahun terakhir banyak warga yang memutuskan menjual tanahnya kepada para investor,”kata Eko
Eko menjelaskan kebanyakan harga tanah yang dijual warga dibanderol cukup bervariatif. Untuk ukuran wilayah Pulau Karimun, warga biasanya menjual tanah seharga Rp2 juta per meter.

Sedangkan harga tanah di Pulau Kemujan justru dijual sangat murah. Menurut Eko harga tanah di Pulau Kemujan antara Rp300 ribu-Rp500 ribu per meter.
“Yang di pulau-pulau lainnya kayak Menyawan, Genting itu harga tanahnya juga sama, rata-rata kisaran Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per meter. Jadinya peminatnya banyak sekali. Sejak 2018 banyak tanah di Kemujan dan Karimun sudah dibeli investor,” kata Eko.
Lantaran harga jual tanah yang relatif miring, maka para investor pun melirik Karimunjawa sebagai lokasi investasi yang menjanjikan. Eko menyebut bahwa mayoritas investor yang datang ke Karimunjawa kerap membuka bisnis penginapan resort, perhotelan dan jasa wisata jetski.
Bisnis di Karimunjawa yang kini tampak mencolok seperti Bandara Dewandaru di Kemujan, Hotel Asian View dan sebuah hotel di pulau tengah.
Tak hanya itu saja, investor yang berdatangan dari kota-kota besar macam Jakarta, Semarang, Bandung dan daerah lainnya.
“Pokoknya tiga empat tahun terakhir itu banyak banget investor dari Jakarta, Temanggung dan Semarang yang masuk ke sini. Umumnya yang mereka cari itu tanah milik warga yang dijual murah. Pasti gak ada sebulan langsung dibeli. Spot-spotnya tersebar merata di semua gugusan pulau,” ujar Eko. (Khrisna)

Baca Juga :   Amdal Dipertanyakan Pemasangan Tower Telkomsel di Desa Jelatang Telah Rugikan Masyarakat Setempat
Mau Pesan Bus ? Klik Disini